EmitenNews.com - Jumlah calon emiten di pipeline pencatatan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusut menjadi 12 perusahaan per 5 Juni 2026. Padahal pada April hingga Mei 2026, terdapat 15 calon emiten yang mengantre di pipeline administrasi OJK dan BEI. Hingga Senin (8/6/2026), belum satu pun yang mengantongi pernyataan efektif ataupun melantai di bursa.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyebut ada tiga penyebab utama proses IPO calon emiten tersendat. 

“Ada yang revisi laporan keuangan menggunakan LK terbaru, ada yang masih membutuhkan kelengkapan dokumen, ada yang belum disetujui,” ujarnya Senin (8/6/2026).

Ia sebelumnya mengatakan per 22 Mei 2026 terdapat 15 perusahaan dalam pipeline. Namun, data Pipeline terbaru per 5 Juni 2026 mencatat jumlahnya berkurang jadi 12 perusahaan.

“Sampai dengan 5 Juni 2026 telah tercatat 1 Perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan dana dihimpun Rp0,30 Triliun. Hingga saat ini, terdapat 12 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” tulis dokumen tersebut.

Dari 12 calon emiten itu, komposisi aset masih didominasi skala besar. Sebanyak 8 perusahaan memiliki aset jumbo di atas Rp250 miliar dan 4 perusahaan berskala menengah dengan aset Rp50 miliar sampai Rp250 miliar. Tidak ada perusahaan beraset kecil di bawah Rp50 miliar.

Berdasarkan sektor, Consumer Cyclicals dan Healthcare masing-masing menyumbang 3 perusahaan atau 25,0%. Consumer Non-Cyclicals dan Infrastructures masing-masing 2 perusahaan atau 16,7%. Financials dan Technology masing-masing 1 perusahaan atau 8,3%.

Padahal dalam Rapat Dewan Komisaris Bulanan (RDKB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Jumat (5/6), total pipeline terdapat 15 rencana Initial Public Offering (IPO).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Derivatif Keuangan dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyebut 15 kontestan  IPO tersebut diproyeksikan menghimpun dana Rp3,65 triliun..

Dari jumlah itu, kontribusi IPO hanya Rp300 miliar lewat satu perusahaan yakni, PT BSA Logistics Indonesia Tbk. (WBSA). Artinya satu-satunya IPO di semester I 2026 masih dipegang WBSA. Capaian ini jauh dari target awal tahun yang mematok 50 emiten IPO.