EmitenNews.com - Harga emas dunia melanjutkan penurunan hingga menyentuh kisaran USD4.250 per ons pada perdagangan awal pekan ini. Posisi tersebut mendekati level terendah dalam tujuh minggu terakhir akibat ketidakpastian negosiasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran inflasi.

Penurunan harga logam mulia ini dipicu oleh terhentinya pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz yang meloloskan harga minyak mentah tetap tinggi. Kondisi ini memperkuat perkiraan pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter dan kenaikan suku bunga acuan secara lebih agresif oleh Bank Sentral AS (The Fed).

Otoritas AS dan Iran mengonfirmasi belum adanya titik temu terkait jalur perdagangan energi tersebut. Presiden Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan alasan Teheran bertindak berlebihan, meskipun ia masih mengharapkan negosiasi berlanjut minggu ini, sebagaimana dilaporkan Trading Economics pada Senin (28/9).

Di sisi lain, Pemerintah Iran menegaskan tidak akan melonggarkan persyaratan yang telah diajukan untuk memulihkan akses lalu lintas komoditas di Selat Hormuz.

Dari faktor moneter, sejumlah pejabat The Fed mengisyaratkan peluang kenaikan suku bunga lanjutan mengingat pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja AS masih tergolong tangguh. Presiden Fed Cleveland Beth Hammack menyampaikan bahwa ketahanan ekonomi serta kecemasan atas utang pemerintah berpotensi mendorong imbal hasil (yield) obligasi Treasury jangka panjang ke level yang lebih tinggi.

Pelaku pasar global saat ini menantikan rilis indikator inflasi utama pilihan The Fed serta data tenaga kerja AS yang dijadwalkan keluar pekan ini. Pergerakan harga emas dunia dan ketidakpastian suku bunga AS ini turut menjadi perhatian bagi pelaku pasar modal di Indonesia, khususnya terkait pergerakan harga emas domestik, saham emiten tambang emas, serta arah nilai tukar rupiah.(*)