EmitenNews.com - Astra Tol Cikopo Palimanan (Cipali) selaku operator memastikan semua pekerjaan fisik di jalur mulai dihentikan pada 23 April sampai minggu ketiga Mei 2022, untuk memperlancar arus mudik lebaran.
"Semua pekerjaan fisik kita hentikan, dan dipastikan kondisi jalur serta marka jalan ruas Tol Cipali dalam kondisi baik," kata Direktur Operasi Astra Tol Cipali Agung Prasetyo melalui keterangan tertulis , Kamis (21/4)
Menurut dia, dengan diberhentikannya semua pekerjaan fisik di sepanjang ruas jalan Tol Cipali, diharapkan bisa memberikan rasa nyaman bagi para pengendara, terutama pemudik yang melintas di ruas tersebut.
Ia juga memastikan jalur yang ada saat ini sangat laik, dan nyaman bila digunakan oleh para pemudik, karena jalan yang berlubang sudah dilakukan penambalan.
"Jalur dapat dilalui pengguna jalan dengan lancar, aman dan nyaman," katanya.
Agung menambahkan Astra Tol Cipali siap memberikan layanan maksimal melalui berbagai upaya peningkatan fasilitas dan infrastruktur di berbagai bidang dalam menghadapi libur Lebaran 2022.
Hal ini dilakukan guna mendukung kebijakan pemerintah dalam memberikan kelonggaran bagi masyarakat untuk kembali merayakan mudik Lebaran di kampung halaman dengan lancar, aman, nyaman dan bertanggung jawab sesuai peraturan yang berlaku.
Ia melanjutkan diprediksi volume lalu lintas arus mudik yang melintasi ruas Tol Cipali terjadi peningkatan sebesar 48 persen dibandingkan dengan hari biasanya atau normal
Di mana diprediksi jumlah volume kendaraan yang melintas sebesar 103 ribu kendaraan dengan puncak mudik pada tanggal 29 April. Sedangkan puncak arus balik diprediksi terjadi pada tanggal 8 Mei dengan total kendaraan sebanyak 116 ribu.
Related News
Carry Over Stok Kuat, Pemerintah Pastikan Tak Ada Impor Pangan di 2026
Tak Hanya Sukuk, Bank Indonesia Tancap Gas Rilis SRBI
Desember Industri Manufaktur Melemah, Tapi Masih di Jalur Ekspansi
Jasa Raharja dapat Bos Baru, Muhammad Awaluddin Namanya
Kesal Betul Menkeu Purbaya
Masih Awal Tahun, Bank Indonesia Langsung Rilis Sukuk Rp29,89 Triliun





