EmitenNews.com - Bank Indonesia bersama pemerintah perlu mengintervensi pelemahan rupiah dengan bauran kebijakan yang taktis dan terukur. Nilai tukar rupiah pada Kamis (23/4/2026) siang, melemah 123 poin atau 0,72 persen menjadi Rp17.304 per USD, dari penutupan sebelumnya di level Rp17.181.

Demikian Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo dalam keterangannya kepada pers, di Jakarta, Kamis.

Bank sentral diperkirakan terus melakukan intervensi ganda, baik di pasar spot maupun pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), tentu dengan memanfaatkan cadangan devisa yang saat ini berada di kisaran USD148 miliar.

Di luar itu, menurut Sutopo, meski suku bunga acuan masih ditahan di level 4,75 persen, ruang untuk penyesuaian moneter tetap terbuka apabila inflasi impor mulai mengganggu stabilitas domestik.

Analis pasar keuangan ini menyarankan pemerintah perlu memperketat disiplin fiskal guna menjaga kepercayaan investor jangka panjang.

Nilai tukar rupiah pada Kamis, pukul 13.32 WIB, melemah 123 poin atau 0,72 persen menjadi Rp17.304, dari penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.

Sutopo menyebutkan pelemahan itu dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal yang kuat dan kerentanan domestik.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait blokade Selat Hormuz, telah mendorong kenaikan harga energi global dan inflasi yang kemudian memperkuat dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

Sementara itu, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi di tengah tingginya harga minyak dunia, diikuti dengan arus modal keluar (capital outflows) akibat meningkatnya sentimen penghindaran risiko turut menekan nilai tukar rupiah.

Durasi tekanan terhadap rupiah sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS alias The Fed. Selama ketidakpastian global masih tinggi, rupiah diperkirakan masih akan berada dalam tekanan jangka pendek hingga menengah.

Satu hal, kata Sutopo, fundamental ekonomi Indonesia tetap relatif kuat, dengan proyeksi pertumbuhan berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen pada 2026. Ia menilai stabilitas diperkirakan baru akan kembali setelah ketegangan global mereda dan pasar mulai melihat titik terang mengenai normalisasi harga komoditas energi dunia. ***