EmitenNews.com - PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) berencana melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue dengan rasio 4:1.

Presiden Direktur ATIC Harry Surjanto Hambali, dalam surat tanggapan atas pertanyaaan Bursaa Efek Indonesia (BEI), dikutip Minggu (8/3/2025) menjelaskan bahwa setiap pemegang empat saham lama berhak memperoleh satu HMETD yang memberikan hak membeli satu saham baru Perseroan.

Pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham pada 26 Februari 2026 berhak mengikuti rights issue tersebut. Sementara harga pelaksanaan akan ditetapkan kemudian dengan mempertimbangkan harga pasar saham dan memberikan diskon untuk mendorong partisipasi investor.

Berdasarkan harga penutupan saham ATIC pada 5 Maret 2026 sebesar Rp560 per saham, Perseroan memperkirakan harga rights issue akan berada di kisaran tersebut dengan mempertimbangkan harga teoritis sesuai ketentuan bursa.

Dana hasil rights issue akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan Perseroan, terutama untuk pelunasan obligasi yang akan jatuh tempo pada 11 Juli 2026 serta mendukung kebutuhan modal kerja.

Per 30 September 2025, Perseroan memiliki kas dan setara kas sebesar Rp445,28 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp120,57 miliar atau setara 27,08% akan dialokasikan untuk pembayaran obligasi yang jatuh tempo.

Selain itu, sebagian dana hasil rights issue juga akan digunakan untuk modal kerja, termasuk pembayaran gaji karyawan sekitar Rp60 miliar untuk periode Juli 2026 hingga Juni 2027.

Dalam penjelasannya kepada Bursa Efek Indonesia, Perseroan menyebut rights issue dipilih sebagai langkah strategis untuk memperkuat struktur permodalan tanpa menambah beban bunga.

Dilusi kepemilikan

Sementara itu, pemegang saham utama Perseroan, TIS Inc., menyatakan tidak akan mengambil bagian dalam rights issue tersebut karena sedang melakukan evaluasi atas investasi luar negeri, termasuk di Anabatic.

Saat ini kepemilikan TIS Inc. di ATIC tercatat sebesar 37,28%. Jika tidak mengikuti rights issue, kepemilikannya diperkirakan terdilusi menjadi sekitar 29,61%, namun masih memenuhi kriteria sebagai pemegang saham utama Perseroan.