EmitenNews.com—IHSG diprediksi menguat terbatas di dalam sepekan ke depan karena bank sentral Amerika Serikat, Inggris dan Eropa mulai memberikan sinyal dovish terkait kebijakan moneternya.

 

Direktur Equator Swarna Investama, Hans Kwee, mengatakan pelaku pasar semakin memperkirakan kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve mulai mendekati fase akhir. "Selain karena kemarin hanya menaikkan 25 basis poin, penghentian kenaikan Fed Fund Rates bisa terjadi jika inflasi AS terus melandai," kata Hans, Sabtu (4/2).

 

Selain itu, Bank of England dan European Central Banks juga menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin pada Jumat dinihari kemarin. "Tetapi meski masih bersikap hawkish, kedua bank sentral tersebut mulai mengeluarkan pernyataan berbau dovish untuk ke depannya," ujar Hans.

 

Suku bunga The Fed naik ke kisaran 4,5%-4,75% pada 1 Februari 2023. Ini merupakan level tertinggi dalam 16 tahun terakhir, tepatnya sejak Oktober 2007. Sejak awal 2022 sampai sekarang, bank sentral AS ini sudah menaikkan suku bunga acuannya delapan kali secara agresif, dengan akumulasi kenaikan 450 basis poin.

 

BoE pada Kamis (2/2) menaikkan suku bunganya untuk kesepuluh kali berturut-turut, demi memerangi inflasi Inggris yang setinggi langit. BoE memberikan suara pada pertemuan reguler untuk menaikkan suku bunga acuannya 50 basis poin menjadi 4,0%, level tertinggi sejak akhir 2008. Kenaikan itu dua kali lipat kenaikan yang diumumkan oleh Federal Reserve (Fed) pada Rabu (1/2).

 

Pada saat yang sama, ECB memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 3%. ECB telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 300 basis poin dalam waktu tujuh bulan terakhir untuk memerangi inflasi Eropa yang meroket.

 

Namun ECB secara eksplisit menyinggung setidaknya satu kenaikan lagi dengan besaran yang sama bulan depan dan menegaskan kembali komitmennya dalam memerangi inflasi yang tinggi. Presiden Christine Lagarde mengakui bahwa prospek zona euro menjadi kurang mengkhawatirkan bagi pertumbuhan dan inflasi. Saat ini "ECB sedikit lebih dovish daripada yang diperkirakan pasar sebelumnya," kata Christine.

 

"Kondisi ini membuat IHSG masih berpotensi menguat minggu depan meski terbatas. Karena data ketenagakerjaan AS yang terbaru tadi malam ternyata masih kuat. Ini bisa jadi pemicu keberlangsungan pengetatan kebijakan moneter the Fed," jelas Hans.

 

Data ketenagakerjaan AS yang dirilis tadi malam kembali menunjukkan hasil positif. Data ini sekaligus menandakan sektor tenaga kerja di AS masih cukup kuat hingga membuat pelaku pasar kembali khawatir.