Baterai Lithium-Air Padat Energi Setara Bensin, Jangkauan EV 1.600 KM
:
0
Teknologi baterai lithium-air akan membuat jangkauan kendaraan listrik (EV) sejauh 1.600 kilometer menjadi hal yang sangat umum. Foto: Carnewschina
EmitenNews.com - Produsen baterai kendaraan listrik (EV) nomor satu dunia CATL sedang mengembangkan teknologi baterai lithium-air. Dengan teknologi baterai terbaru ini maka jangkauan EV sejauh di atas 1.600 kilometer menjadi hal yang umum.
Pengembangan teknologi baterai lithium-air ini diungkapkan oleh CATL pada Forum Powering the Nation 2026.
Seperti dikutip Carnewschina.com, Rabu (3/6/2026), Wu Kai, Kepala Ilmuwan di CATL dan akademisi Akademi Teknik Tiongkok, mengungkapkan fokus strategis perusahaan pada teknologi baterai lithium-air.
Ini menandai pertama kalinya CATL secara publik mengidentifikasi teknologi ini sebagai arah pengembangan masa depannya dan titik fokus untuk generasi berikutnya dari persaingan baterai global.
Baterai “Bernapas”
Tidak seperti baterai lithium-ion tradisional, yang bergantung pada senyawa logam berat seperti nikel, kobalt, dan mangan untuk “menampung” ion lithium, baterai lithium-air menggunakan logam lithium sebagai anoda dan oksigen dari udara sebagai reaktan katoda.
Desain ini secara signifikan mengurangi berat dan kompleksitas, sehingga mendapatkan julukan “baterai bernapas.”
Kepadatan energi teroritis teknologi lithium-air sangat mencengangkan, mencapai hingga 12.000 Wh/kg—angka yang sebanding dengan bensin (sekitar 13.000 Wh/kg). Meskipun prototipe laboratorium saat ini telah mencapai lebih dari 1.200 Wh/kg, ini sudah lebih dari empat kali lipat kapasitas 250–270 Wh/kg dari baterai lithium-ion arus utama dan jauh lebih tinggi daripada 500 Wh/kg yang diharapkan dari baterai solid-state.
Jika berhasil dikomersialkan, teknologi ini secara fundamental dapat menghilangkan kekhawatiran tentang jangkauan, membuat jangkauan kendaraan listrik melebihi 1.600 km menjadi hal yang umum.
Meskipun konsep baterai lithium-air sudah ada sejak tahun 1970-an, penerapan praktisnya terhambat oleh tantangan teknik, seperti sensitivitas terhadap kelembapan dan karbon dioksida di udara, serta masalah dengan stabilitas katalis dan masa pakai siklus.
Related News
WIKA Beton (WTON) Raih Proyek Rp75,9M, Dorong Bangun Sekolah Rakyat
SGER Bidik Pendapatan Rp10 Triliun, Kebut Diversifikasi Lini Usaha
Akhiri Suspensi 13 Hari, Saham FCA Ini Langsung Ngegas ARA!
Saham Terdepak FTSE Dominan Merah, Hanya Satu Menghijau
Baru Buka IHSG Ambles 1,23 Persen, Saham Big Bank Ikut Rontok
Tren Positif Lanjut Kuartal I, MINE Catat Pendapatan Rp676,19 Miliar





