EmitenNews.com - Dalam euforia Tahun Kuda Api yang menuntut kecepatan dan pertumbuhan, investor sering kali terbuai oleh angka-angka permukaan yang tampak berkilau. Hari ini, 17 Februari 2026, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) merilis kinerja tahun buku 2025 dengan tajuk yang cukup optimis: "MPPA Mencatat Pertumbuhan Penjualan dan Perbaikan Margin".

Sekilas, judul tersebut memberikan angin segar bagi para pemegang saham yang menanti kisah kebangkitan (turnaround story) dari peritel legendaris ini. Namun, ada adagium lama di pasar modal yang sangat relevan untuk membedah kasus ini: "Revenue is Vanity, Profit is Sanity" artinya, Pendapatan adalah Kebanggaan, Laba adalah Kewarasan. Mari kita telisik lebih dalam laporan keuangan audited perseroan untuk melihat apakah "kebanggaan" di baris atas (top line) sudah selaras dengan "kewarasan" di baris bawah (bottom line).

Ilusi Pertumbuhan dan Resiliensi Penjualan

Kredit harus diberikan kepada manajemen MPPA. Di tengah gempuran ritel format kecil (minimarket) yang semakin agresif mengepung pasar, MPPA selaku induk usaha Hypermart masih mampu mencatatkan pertumbuhan Penjualan Bersih sebesar 1,9% menjadi Rp7,25 triliun sepanjang tahun 2025.

Kenaikan ini, yang disertai dengan perbaikan Laba Kotor (Gross Profit) sebesar 2,8% menjadi Rp1,26 triliun, membuktikan satu tesis penting: strategi rebranding dan penataan ulang format toko yang dilakukan perseroan masih relevan. Konsumen masih bersedia berbelanja di gerai-gerai MPPA, dan manajemen stok berjalan cukup efisien. Secara operasional toko, denyut nadi bisnis ini masih berdetak cukup kuat.

Namun, bagi investor yang jeli, cerita fundamental tidak berhenti di meja kasir. Masalah sesungguhnya mulai terlihat ketika kita menelusuri pos beban usaha di bagian tengah laporan laba rugi.

Realita Pahit: Inefisiensi dan Harga Mahal "Loyalitas"

Meskipun penjualan berhasil tumbuh, biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan roda bisnis ternyata membengkak lebih cepat. Data laporan keuangan menunjukkan Laba Operasional (Profit from Operation) justru anjlok 23,1% menjadi hanya Rp26 miliar, turun signifikan dibandingkan Rp33,9 miliar pada tahun sebelumnya.

Penurunan laba operasional di saat penjualan sedang naik adalah sebuah anomali negatif. Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan omzet "dimakan habis" oleh beban operasional. Selain beban rutin seperti gaji, utilitas, dan sewa yang memang tinggi di industri ritel, terdapat satu komponen strategi yang membebani, yaitu Program Loyalitas Pelanggan.

Merujuk pada Catatan 2.m Laporan Keuangan, perseroan menerapkan kebijakan agresif dalam pemberian poin loyalitas yang dicatat sebagai pendapatan ditangguhkan, sementara bebannya diakui saat terjadi. Strategi ini ibarat pedang bermata dua: efektif menjaga omzet tetap tumbuh (konsumen kembali berbelanja), namun membebani struktur biaya secara signifikan.

Dampaknya langsung memukul jantung profitabilitas. Alih-alih menyusut, Rugi Bersih (Net Loss) MPPA justru membengkak menjadi Rp152 miliar, jauh lebih dalam dibandingkan kerugian tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp118 miliar.

Perspektif Strategis: "Buying Relevance" di Tengah Perang Rebranding

Apakah manajemen MPPA keliru? Jika dilihat dari kacamata strategi bisnis jangka panjang, langkah ini bisa dipahami sebagai "Defensive Pivot".

Di tengah format Hypermarket global yang mulai ditinggalkan, MPPA tampaknya memilih untuk "membeli relevansi". Kerugian yang membengkak saat ini adalah "biaya perang" yang harus dibayar untuk mempertahankan pangsa pasar agar tidak tergerus habis oleh minimarket. Manajemen rela mengorbankan profitabilitas jangka pendek demi memastikan merek Hypermart tetap hidup dan relevan di benak konsumen, sembari menunggu pesaing lain berguguran atau istilah populernya “survival of the fittest”.

Sinyal Risiko dan Harapan Baru

Selain angka laba rugi, investor juga perlu mencermati Catatan 41 (Peristiwa Setelah Periode Pelaporan), terungkap fakta material bahwa pada tanggal 5 Februari 2026, perseroan menerima waiver (pengampunan) atas pinjaman dari Bank BNI. Dalam konteks perbankan, langkah ini merupakan bentuk relaksasi kredit yang krusial untuk memastikan perseroan tetap mematuhi kovenan di tengah kondisi keuangan yang dinamis dan ketat.

Namun, di balik awan mendung tersebut, terdapat secercah cahaya harapan struktural. Masih merujuk pada Catatan 41, pada tanggal 22 Januari 2026, perseroan mendirikan anak usaha baru bernama PT Fortuna Optima Distribusi.