Bos BEI Sebut Ada Dua IPO Lighthouse di Awal 2026, Siapa Saja?
Ilustrasi tiga kandidat perusahaan yang dirumorkan akan IPO.
EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pipeline (antrean) pencatatan saham masih menyisakan sekitar tujuh perusahaan hingga akhir 2025, di tengah solidnya aktivitas pasar modal sepanjang tahun berjalan. Dari pipeline tersebut, dua emiten berstatus lighthouse diproyeksikan melantai pada kuartal I 2026.
Sebagai catatan, pada 2025 lalu, BEI telah sukses melantaikan sejumlah enam IPO Lighthouse di antaranya seperti PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), PT Raharja Energi Cepu TBK (RATU), PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), hingga PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Direktur Penilaian Perusahaan Tercatat BEI, I Gede Nyoman Yetna, saat diwawancarai usai Konferensi Pers Penutupan Perdagangan BEI 2025, Selasa (30/12). mengungkapkan bahwa sebagian besar perusahaan dalam pipeline IPO 2026 berasal dari sektor-sektor strategis.
“Saat ini di pipeline, kan, kita masih bersisa sekitar 7 yang di pipeline. Sementara, Kuartal-I lighthouse terdapat 2 (perusahaan) yang ada. Nah, itu nanti dari infrastruktur sama mining,” ujar Nyoman Yetna.
Berdasarkan data BEI, hingga 24 Desember 2025 telah tercatat 6 perusahaan beraset besar dengan nominal >Rp500 miliar berada dalam pipeline pencatatan saham BEI.
Diketahui juga, bahwa terdapat sisa jumlah dua perseroan yang merupakan IPO lighthouse menurut pernyataan Nyoman. Adapun, untuk bocoran sektor dari kedua perusahaan tersebut berasal dari sektor infrastruktur dan juga sektor mining atau pertambangan.
Adapun, berikut ini pula beberapa rumor besar yang mengaitkan calon kontestan IPO bonafit selanjutnya di Kuartal-I 2026 yakni, berikut ini di antaranya:
1. Infrastruktur Logistik Batu Bara: PT Titan Infra Sejahtera (TISA)
PT Titan Infra Sejahtera (TIS) menjadi salah atau yang digadang-gadang dari sektor infrastruktur yang dikabarkan siap melantai di bursa. Bahkan, salah satu anak dari Menteri Keuangan RI yakni, Purbaya Yudhi Sadewa sempat memberikan informasi bahwa PT TIS melantai dengan menggunakan ticker code emiten: TISA.
Sebagai catatan informasi, perusahaan ini mengoperasikan infrastruktur logistik batu bara terintegrasi di Sumatra Selatan, mulai dari hauling road sepanjang 118 kilometer berkapasitas 50 juta ton per tahun hingga pelabuhan di Sungai Musi dengan kapasitas 34 juta ton yang ditargetkan meningkat menjadi 45 juta ton per tahun.
Pada 2024, volume angkutan TIS mencapai 21 juta ton dan diproyeksikan naik menjadi 27 juta ton pada 2025, didukung kerja sama dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) serta peningkatan kualitas jalan angkut dan penambahan konveyor.
2. Infrastruktur Logistik Gas Bumi: PT Panji Raya Alamindo (PRA)
PT Panji Raya Alamindo (PRA), anak usaha PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) yang diusung oleh konglomerat Happy Hapsoro, PT PRA ini bergerak di bidang investasi, perdagangan, dan transportasi gas bumi dengan fokus utama pada niaga gas melalui pipa.
Didirikan pada 2007, PRA berperan dalam memperkuat rantai pasok energi nasional dengan menyalurkan gas ke sektor industri, ketenagalistrikan, komersial, serta CNG di wilayah Sumatra dan Jawa. Termasuk memasok gas ke PT PLN (Persero) melalui jaringan pipa di wilayah Jawa dan Jambi.
PRA mengelola jaringan pipa gas terintegrasi sepanjang sekitar 224,20 kilometer, terdiri atas pipa transmisi dan distribusi yang menghubungkan produsen gas hulu dengan pengguna akhir. Selain pipa, perseroan juga mengoperasikan niaga gas CNG melalui mother station di Grobogan dan Cikarang dengan kapasitas total sekitar 7 MMSCFD.
Pada 2024–2025, PRA aktif memperluas bisnis melalui kontrak pasokan gas jangka menengah, ekspansi pelanggan industri, serta inisiatif pengembangan renewable natural gas (RNG).
Melalui anak usahanya, PRA juga menjalin kontrak penjualan gas dengan perusahaan energi besar seperti PT Pertamina EP dan pelanggan industri seperti PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP).
Related News
Beda Nasib Dua Saham Penghuni Terlama Papan Pemantauan Khusus
Melihat Lagi Gerak DCII dan DSSA, Saham dengan Harga Tertinggi per Lot
Ungguli Bursa Malaysia, IHSG Terbaik Ketiga ASEAN
POPSI Khawatir Kenaikan Pungutan Ekspor Lemahkan Daya Saing Sawit RI
TKDN Industri Hulu Migas Hingga 2025 Setara Rp388 Triliun
Hasil Tajak di Sumur Pengembangan ABB-143 Hasilkan 3.672 BOPD Minyak





