EmitenNews.com - Menjaga kinerja dan stabilitas pasar modal di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berencana membeli kembali saham perseroan. Untuk buyback saham emiten Prajogo Pangestu (TPIA) itu, mengalokasikan dana maksimal Rp1 triliun.

Mengutip aksi keterbukaan informasi pada Senin (19/10/2026), aksi korporasi ini mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 13 Tahun 2023 serta Surat Edaran OJK Nomor S-112/D.04/2026.

Dalam keterangannya manajemen TPIA menyatakan bahwa rencana buyback ini bertujuan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Juga memperbaiki kinerja saham agar sesuai kondisi fundamental perseroan, dan menjaga kepercayaan publik.

Jumlah saham yang akan dibeli kembali adalah sebanyak-banyaknya 0,92% dari total lembar saham yang telah dikeluarkan oleh perseroan, atau setara dengan 800 juta saham. Batasan harga buyback dipatok pada kisaran serendah-rendahnya Rp1.250 hingga setinggi-tingginya Rp3.000 per lembar saham.

Penting dicatat, periode pelaksanaan buyback yang semula direncanakan berlangsung hingga 19 Januari 2027 diperbarui menjadi 19 Oktober 2026 sampai 31 Desember 2026. 

Satu hal, perseroan berhak menghentikan program ini lebih awal apabila dana telah habis, jumlah saham yang diinginkan telah tercapai, atau atas pertimbangan lain dari manajemen sesuai ketentuan POJK No. 29/2023.

Dalam mengeksekusi rencana ini, TPIA menunjuk PT Henan Putihrai Sekuritas untuk melakukan pembelian melalui perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Selama periode tersebut, pihak-pihak tertentu seperti anggota Dewan Komisaris, Direksi, pegawai, pemegang saham utama, serta pihak yang memiliki akses terhadap informasi orang dalam dilarang melakukan transaksi atas saham perseroan.

Bagusnya, seluruh pembiayaan buyback ini murni bersumber dari kas internal perseroan secara bertahap, termasuk biaya transaksi dan komisi broker. 

Satu hal, manajemen memastikan bahwa aksi korporasi ini tidak akan menurunkan pendapatan maupun memberikan dampak negatif yang material terhadap kegiatan operasional dan pembiayaan jangka panjang. Pasalnya, emiten TPIA milik konglomerat Prajogo Pangestu itu, memiliki arus kas yang memadai.

Berdasarkan analisis keuangan per 30 Juni 2026 (unaudited), total aset perseroan disesuaikan dari USD13,76 miliar menjadi USD13,71 miliar setelah dampak pembelian kembali, dengan laba bersih per saham tetap berada di level USD0,0033. ***