CPO Didorong Jadi Alternatif Bahan Baku Industri Plastik
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mendorong pemanfaatan minyak sawit mentah (CPO) sebagai alternatif bahan baku industri plastik. (Foto: Dok)
EmitenNews.com - Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mendorong pemanfaatan minyak sawit mentah (CPO) sebagai pengganti nafta. Langkah strategis ini bertujuan mengatasi kelangkaan bahan baku plastik akibat konflik global.
Wamenperin menilai diversifikasi bahan baku berbahan nabati sangat mendesak bagi industri manufaktur nasional. Ketersediaan stok kelapa sawit domestik yang melimpah dapat menjadi peluang besar bagi sektor petrokimia.
“Perlu memang diversifikasi pengganti nafta baik dari gas maupun dari nabati. Mudah-mudahan ini bisa menjadi peluang buat CPO misalnya,” ujar Faisol seperti dilansir RRI.
Faisol menyebutkan bahwa pasokan nafta dari negara kawasan Asia Barat kini terhambat. Gangguan distribusi tersebut terjadi karena penutupan jalur logistik internasional akibat pecahnya peperangan.
Pemerintah saat ini sedang mengkaji secara mendalam penggunaan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO). Faisol mengharapkan komoditas tersebut mampu menjadi solusi utama dalam rantai produksi plastik.
Faisol turut memberikan pilihan penggunaan gas minyak bumi cair sebagai bahan mentah lainnya. Komoditas tersebut nantinya dapat diolah kembali menjadi produk polietilena, propilena, hingga jenis olefin.
Gas minyak bumi cair (Liquefied Petroleum Gas/LPG) dinilai potensial untuk mendukung keberlanjutan operasional pabrik. Sejumlah perusahaan bahkan sudah mulai meningkatkan cadangan gas tersebut guna menjaga stabilitas produksi.
Pemerintah belum menetapkan aturan mengenai pengenaan tarif khusus bagi komoditas gas yang diimpor. Kemenperin berupaya menjaga agar fluktuasi harga global tidak memberikan dampak buruk bagi industri hilir.
“Belum sampai seperti itu yang pasti harga di luar pun juga sudah tinggi. Jadi pemerintah berupaya supaya tidak terdampak ke hilir,” ucap Faisol.
Faisol mengakui bahwa para pelaku industri kini menghadapi kesulitan besar dalam memperoleh bahan baku. Kelangkaan nafta yang mencapai 70 persen memaksa pengusaha mencari sumber dari wilayah lain.
Produsen plastik sekarang lebih memprioritaskan ketersediaan stok barang dibandingkan dengan variabel harga pasar. Mereka juga sedang melakukan perhitungan cermat terhadap kenaikan biaya logistik serta pengiriman barang.
“Ini soal ketersediaan bukan soal harga. Industri juga sedang menghitung ongkos logistik dan segala macamnya,” kata Faisol.
Konflik yang melanda wilayah Asia Barat mengakibatkan terhentinya distribusi melalui jalur Selat Hormuz. Hal ini memicu terjadinya kelangkaan produk petrokimia yang berbasis pada penggunaan bahan bakar fosil.(*)
Related News
Cek, Berikut 10 Saham Top Losers dalam Sepekan
Telisik! 10 Saham Penghuni Top Gainers Pekan Ini
IHSG Melejit 6,14 Persen, Aksi Jual Asing Rp37,14 Triliun
Mendag Dorong Revitalisasi Pasar Rakyat Jadi Lebih Modern
Industri Logam Dasar Tumbuh 15,71 Persen Pada 2025
Rp11,4T Uang Negara Diselamatkan, Prabowo: Bisa Buat Perbaiki Sekolah





