EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan status High Shareholding Concentration terhadap saham PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) dan PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA).

Hal ini tertuang dalam pengumuman kepemilikan saham terkonsentarsi tinggi, yang ditandatangani oleh Direktur BEI, Yulianto Aji Sadono dan Direktur Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Eqy Essiqy pada 4 Agustus 2026.

Kedua saham tersebut dicap HSC karena berdasarkan metodologi penentuan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atas struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat per 31  Juli 2026, saham perseroan dimiliki sejumlah tertentu pemegang saham.

Saham AGAR dimiliki sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 99,32% , dan saham ALKA secara agregat dikuasai oleh 98,21% daro total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat.

“Pengumuman ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal,” tulis Yulianto Aji, dikutip Rabu (5/8).

51 Saham Telah Dicap HSC

Sebelumnya, BEI juga telah mengumumkan sejumlah saham yang dikategorikan terindikasi berstatus HSC. Jumlahnya mencapai 51 saham yang terdiri dari berbagai sektor. Berdasarkan data yang dihimpun EmitenNews, PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) memimpin puncak daftar dengan konsentrasi kepemilikan tertinggi mencapai 99,99%. Menyusul di belakangnya terdapat raksasa pusat data PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dengan porsi 99,96%, serta PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) yang masing-masing mencatatkan angka 99,95%.

Di jajaran bank kelas kakap, terdapat PT Bank Permata Tbk (BNLI) dengan konsentrasi kepemilikan mencapai 99,92%, disusul oleh bank patungan asal Jepang PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) sebesar 99,78%, dan PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) sebesar 99,14%.

Tak ketinggalan, bank-bank milik konglomerasi besar dalam negeri juga masuk ke dalam saham HSC. Grup CT Corp menyumbang dua nama yaitu PT Bank Mega Tbk (MEGA) sebesar 95,68% dan PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) sebesar 92,71%. Selain itu, terdapat bank digital milik Salim Group yaitu PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) sebesar 94,79%, serta bank digital grup Sea Ltd, PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) yang mencatatkan konsentrasi luar biasa padat di angka 99,95%.

Di posisi kedua, diisi oleh sektor energi dan tambang dengan porsi kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi. Saham dari grup Barito misalnya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan tingkat konsentrasi 97,31%. Ada pula raksasa batu bara milik Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar 98,50%, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinar Mas sebesar 95,76%.