Diantara Big Bank, Saham BBNI Paling Tahan Tekanan Sepanjang 2025
:
0
ilustrasi kredit perbankan. DOK/ISTIMEWA
EmitenNews.com -Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat kinerja paling resisten dibandingkan bank besar lainnya di tengah kondisi pasar keuangan yang menantang sepanjang 2025.
Faktor suku bunga tinggi, perlambatan pertumbuhan kredit, serta meningkatnya kehati-hatian investor membuat saham-saham bank big four bergerak tertekan sejak awal tahun.
Berdasarkan data perdagangan sepanjang tahun lalu, saham BNI tercatat menguat tipis 0,23%, dari Rp4.360/saham (27/12/2024) menjadi Rp4.370/saham di akhir 2025. Penurunan ini lebih dangkal dibandingkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang turun 10,7% ke Rp3.660/saham.
Di sisi lain, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkoreksi 12,5% ke Rp5.075/saham, sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah paling parah, mencapai 17,6% ke Rp8.075/saham.
Kinerja relatif lebih stabil tersebut menempatkan BNI sebagai bank besar dengan daya tahan harga saham terbaik di tengah tekanan sektor perbankan. Analis pasar saham menilai perbedaan kinerja ini mencerminkan perbedaan persepsi pasar terhadap kekuatan fundamental, kualitas aset, serta kesiapan masing-masing bank dalam menghadapi fase pemulihan industri perbankan ke depan.
Dari sisi likuiditas, posisi BNI dinilai lebih longgar dibandingkan sebagian bank besar lain. Rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) BNI berada di level 86,9%, mencerminkan ruang ekspansi kredit yang masih luas tanpa tekanan pendanaan yang berlebihan.
Kondisi tersebut menjadi keunggulan tersendiri dari bank tersebut di tengah ketatnya likuiditas dan persaingan dana pihak ketiga di industri perbankan. Analis Bahana Sekuritas Razqi M. Kurniawan menilai kondisi likuiditas yang longgar tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menopang stabilitas saham BNI.
“Struktur pendanaan BBNI saat ini jauh lebih sehat, dengan ruang ekspansi kredit yang masih besar tanpa harus mengorbankan biaya dana maupun kualitas aset,” tulis Razqi dalam riset terbarunya.
Selain itu, biaya dana (cost of fund) BNI juga tercatat terus membaik seiring peningkatan proporsi dana murah (CASA). Struktur pendanaan yang semakin efisien tersebut membantu BNI menjaga stabilitas margin bunga di tengah tekanan penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) sektor perbankan secara umum.
Dari sisi kualitas aset, BNI dinilai telah menunjukkan perbaikan struktural yang signifikan. Setelah menjalani proses penurunan risiko (de-risking) selama 5 tahun terakhir pascapandemi, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) BNI kini stabil di kisaran 2%. Pada saat yang sama, cost of credit berhasil ditekan hingga 1%, level terendah dalam 5 tahun terakhir.
Related News
Sertai Right Issue, PYFA Tawarkan Waran 3,75 Miliar Lembar
DGNS Private Placement Rp269 per Saham, Ini Eksekutornya
CDIA Injeksi Anak Usaha Petrosea USD15,5 Juta, Ini Tujuannya
Rugi Bengkak 105 Persen, ACST Kuartal I 2025 Defisit Rp4,75 Triliun
Pengendali Baru, Triple B Siap Caplok 1,14 Miliar Saham EPAC
GOOD Gulirkan Dividen Rp350 Miliar, Cum Date 4 Mei 2026





