EmitenNews.com - IHSG ditutup melemah pada perdagangan  Jumat (5/11/21) sebesar -0,07% (-4,65 poin) menuju level 6.581,78 dengan nilai transaksi perdagangan 8,1 triliun dan investor asing membukukan nett buy sebesar 1 Triliun. 

 

Data GDP kuartal III 2021 yang lebih rendah dari ekspektasi dan pelemahan harga batubara akan menjadi sentimen negatif di pasar. BPS mencatat, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2021 hanya 3.51% year on year (yoy), meleset dari perkiraan Menteri keuangan Sri Mulyani sebesar 4.5% dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebesar 5%. Pertumbuhan yang melambat ini tak lepas dari lonjakan kasus Covid-19 pada bulan Juli yang membuat pemerintah memberlakukan PPKM yang menekan konsumsi rumah tangga dan pemerintah. 

 

Di sisi lain BI memperkirakan terjadi peningkatan harga (inflasi) pada November 2021. Berdasarkan survei pemantauan harga (SPH) pada minggu pertama November 2021, inflasi pada bulan laporan diperkirakan sebesar 0,16% mom. Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi November 2021 secara tahun kalender sebesar 1,09% ytd dan secara tahunan sebesar 1,54% yoy,”.

 

“Pelemahan pada pekan lalu membuat tren kenaikan IHSG terhenti serta memasuki area konsolidasi 6500/6600. Adapun pelemahan tersebut masih terbatas pada area support 6500 serta ditutup di area MA20 (garis biru) pada level 6581. Meskipun masih berpeluang melemah, Indikator stochastic berpotensi Golden Cross sehingga pada perdagangan hari ini IHSG masih diperkirakan bergerak Mix pada area 6500/6600,”  kata Indra Tedja Kusuma Analis Sucor Sekuritas, Senin (8/11/2021).

 

Adapun untuk saat ini para investor ataupun traider dapat mencermati saham-saham seperti BRIS, BRPT, TOWR, BNBA, CASH dan ISSP sebagai bahan referensi pada perdagangan awal pekan kedua bulan November ini.