EmitenNews.com - Meningkatnya pertumbuhan di sektor komoditas dan pulihnya sejumlah sektor industri serta mulai berkurangnya dampak negatif dari Pandemi Covid-19 dalam 3 (tiga) bulan terakhir berimbas pada permintaan akan Kendaraan Berat. Kondisi ini tentunya turut berimbas pada kegiatan bongkar muat Kendaraan Berat di Terminal PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC). Sepanjang tiga bulan pertama ini, jumlah Kendaraan Berat (gabungan antara Alat Berat dan Truck/Bus) di Terminal Internasional telah dilayani bongkar muat sebanyak 4.833 unit atau naik 70,24% dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebanyak 2.839 unit.


Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.130 unit merupakan Kendaraan Berat impor yang naik 243,59% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebesar 1.202 unit. Sementara sisanya, merupakan Kendaraan Berat ekspor yang berbanding terbalik dimana turun 57,06% dari 1.637 unit di tahun lalu menjadi 703 unit.


Tak ketinggalan, pada Terminal Domestik turut mencatatkan kinerja yang tidak kalah menariknya. Pada Terminal ini, secara total telah dilayani sebanyak 20.314 unit atau naik 299,72% dibandingkan periode 3 bulan pertama di tahun lalu sebesar 5.082 unit. Adapun torehan kinerja yang mengesankan tersebut, tidak hanya dihasilkan dari Terminal Domestik IPCC di Tanjung Priok saja namun, juga turut dihasilkan dari sejumlah Terminal Satelit, seperti Terminal Panjang, Lampung; Terminal Dwikora, Pontianak; dan Terminal Roro Belawan, Medan. Kondisi ini tentunya menambah jumlah bongkar muat Kendaraan Berat yang dilayani oleh IPCC.


Selain dari Kendaraan Berat, kontribusi pundi-pundi pendapatan kargo IPCC juga berasal dari segmen kargo CBU yang sepanjang tiga bulan pertama di tahun ini dilayani sejumlah 77.139 unit di Terminal Internasional dan 38.554 unit di Terminal Domestik. Lalu, dari segmen kargo General Cargo yang dilayani sebanyak 21.115 unit di Terminal Internasional dan 3.945 unit di Terminal Domestik. Tak ketinggalan, dari segmen Motor di Terminal Domestik sebanyak 55.525 unit.


Dengan perolehan bongkar muat tersebut membuat kinerja keuangan IPCC turut terdongkrak. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan dalam Analyst Meeting dan Public Expose sebelumnya dimana Manajemen baru terus mengupayakan untuk meningkatkan pelayanan di Terminal, baik di Terminal Internasional, Domestik, maupun Satelit dan juga optimalisasi bisnis Perseroan dengan sejumlah pihak, baik Automaker, Shipping Line, dan lainnya sehingga menjadikan Terminal IPCC sebagai pilihan untuk dilakukannya layanan bongkar muat kendaraan. 


Tidak lupa, dengan adanya merger Pelindo juga turut dimanfaatkan untuk masuk ke sejumlah Pelabuhan di berbagai wilayah sehingga nantinya tidak hanya mengandalkan Tanjung Priok namun, juga ada kontribusi dari daerah lain sehingga makin memberikan nilai tambah.


Dari sisi Pendapatan Operasional, IPCC mampu membukukan peningkatan sebesar 25,12% sepanjang triwulan pertama tahun ini menjadi Rp150,05 miliar dari periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp119,92 miliar. Adanya pengurangan pada Beban Pokok Pendapatan sebanyak 6,81% menjadi Rp71,78 miliar dari sebelumnya Rp77,03 miliar membantu IPCC untuk meningkatkan perolehan Laba Kotor menjadi Rp78,26 miliar atau naik 82,45%. Bahkan, pengurangan juga terjadi pada Beban Umum dan Administrasi sebesar 8,11% dari Rp27,43 miliar di periode triwulan pertama tahun lalu menjadi Rp25,21 di triwulan pertama tahun ini. 


Dampaknya, membuat Laba Usaha IPCC lompat 243,18% menjadi Rp53,05 miliar di kuartal pertama tahun ini dibandingkan capaian tahun lalu sebesar Rp15,46 miliar. Begitupun dengan EBITDA yang terangkat 76,55% menjadi Rp82,43 miliar dibandingkan tahun lalu sebesar Rp21,20 miliar. Perseroan tidak banyak melakukan efisiensi secara massif karena dapat mengganggu jalannya kegiatan operasional namun, lebih mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk men-generate income lebih tinggi.