EmitenNews.com - Buma Grup (DOID) mengalokasikan anggaran senilai USD6 juta atau Rp104,25 miliar. Itu dengan kurs tengah Bank Indonesia (BI) Rp17.350 per dolar Amerika Serikat (USD). Dana tersebut diplot untuk aksi pembelian kembali saham alias buyback.

Bujet tersebut sudah mencakup biaya transaksi, biaya pedagang perantara, dan biaya lainnya yang timbul sehubungan dengan transaksi perseroan. Jumlah saham akan dibeli kembali tidak melebihi 10 persen dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan. Jumlah saham beredar (free float) setelah pelaksanaan buyback tidak akan menjadi kurang dari 15 persen.

Dengan mempertimbangkan alokasi dana maksimum USD6 juta, pelaksanaan transaksi buyback tidak memiliki dampak material bagi kinerja keuangan, dan kegiatan usaha perseroan. Tindakan korporasi itu, dilatari oleh dua pertimbangan. Yaitu, memberi nilai tambah kepada investor selain dari pembagian dividen.

Lalu, penerapan program kepemilikan saham oleh manajemen dan karyawan sebagai salah satu usaha dari perseroan dalam program retensi karyawan. Saat ini, DOID memiliki seluruh saham treasuri 293.837.700 lembar dengan nominal Rp50 per helai sejumlah Rp14,69 miliar. 

Selain agenda buybackPembel, perseroan juga menjadwalkan agenda pengurangan modal pada RUPS Luar Biasa pada 24 Juni 2026 mendatang. Saham treasuri saat ini dapat dialihkan untuk pengurangan modal, yang keputusan, dan pelaksanaannya akan dilaksanakan setelah keputusan RUPS, dan sebelum transaksi. 

Jumlah saham akan dibeli kembali maksimal 320.769.300 lembar dengan nilai nominal Rp50 per saham yaitu sebesar Rp16,03 miliar. Dengan demikian, transaksi tidak melebihi 10 persen dari jumlah modal ditempatkan, dan disetor penuh dalam perseroan. Dengan asumsi buyback maksimal 320.769.300 saham, kepemilikan saham masyarakat akan menurun menjadi 36,50 persen. (*)