EmitenNews.com - Indeks dolar Amerika Serikat melanjutkannya tren penurunan ke kisaran 98,8 pada perdagangan Senin pagi (24/8). Pelemahan mata uang Paman Sam ini memberikan sinyal positif bagi potensi penguatan nilai tukar Rupiah di pasar domestik.

Penurunan dolar AS terjadi seiring lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang memicu kekhawatir investor terhadap pembengkakan beban utang negara tersebut. Di pasar valuta asing Tokyo, dolar merosot hingga menyentuh 158,73 yen, sementara euro menguat ke posisi USD1,1687 per euro.

Mengutip laporan Biggo Finance, tekanan terhadap dolar AS juga diwarnai pengumuman strategi pembelian kembali (buyback) utang oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Pemerintah AS berencana membeli kembali surat berharga jangka panjang guna mengelola biaya pinjaman.

Selain beban utang, investor memantau perkembangan sanksi baru AS terhadap Iran di tengah ketegangan Timur Tengah. Pasar kini menantikan data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Juli serta pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada simposium Jackson Hole akhir pekan ini.

Merosotnya indeks dolar AS ke level 98,8 memberi ruang apresiasi bagi nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Penguatan mata uang domestik ini berpotensi meredakan tekanan inflasi barang impor (imported inflation) serta menekan beban pembayaran utang luar negeri Indonesia yang berdenominasi dolar AS.(*).