EmitenNews.com - Harga emas dunia bertahan di bawah level USD4.300 per ons pada Kamis (24/9) setelah mengalami penurunan tajam pada sesi perdagangan sebelumnya. Tekanan terhadap komoditas logam mulia ini dipicu oleh penguatan nilai tukar dolar AS serta lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Berdasarkan data Trading Economics, pergerakan tersebut terjadi seiring rilis data sektor swasta AS yang lebih kuat dari perkiraan pasar. Kondisi ekonomi ini meningkatkan kekhawatiran inflasi serta memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.

Sejumlah pejabat Fed telah menegaskan kembali dukungan terhadap kenaikan suku bunga yang dilakukan pekan lalu sambil memberikan peringatan terkait risiko inflasi yang terus berlanjut. "Pasar sekarang memperkirakan sekitar 70% kemungkinan kenaikan suku bunga Fed lagi pada bulan Oktober, naik dari 55% sehari sebelumnya," rilis data Trading Economics pada Kamis (24/9).

Di saat bersamaan, harga minyak mentah dunia kembali pulih usai Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap keras Teheran. Iran menyatakan tidak akan mengizinkan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz selama sanksi dan blokade AS masih berlaku.

Kenaikan harga minyak bumi menambah tekanan inflasi global yang berujung pada ekspektasi kebijakan suku bunga yang lebih agresif dari bank sentral AS. Kombinasi imbal hasil obligasi yang tinggi dan dolar AS yang perkasa membuat daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil menjadi tertahan.

Penurunan harga emas internasional dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS ini turut menjadi perhatian para pelaku pasar dan investor di Indonesia. Dinamika tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan harga emas batangan domestik serta memicu penyesuaian arus modal di pasar keuangan nasional.(*)