Fluktuasi Makin Parah, IHSG Tanpa Arah
:
0
Suasana main hall Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks Wall Street akhir pekan lalu melemah signifikan. Itu didorong tekanan jual pada saham chip. Data nonfarm payrolls lebih baik dari estimasi mendorong kenaikan yield obligasi, menambah faktor negatif. Data nonfarm payrolls mencapai 172 ribu edisi Mei 2026, di atas estimasi 80 ribu.
Tekanan jual saham sektor teknologi di Amerika Serikat (AS) berpotensi menyebar ke Eropa, dan Asia. Harga minyak mentah koreksi, namun Iran mengancam akan menutup Selat Bab el-Mandeb kalau konflik Timur Tengah meningkat. Harga emas susut 2,2 persen menjadi USD4,375 per troy oz.
Perosotan emas itu, akibat data tenaga kerja AS masih kuat meningkatkan ekspektasi the Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama di tengah kenaikan inflasi akibat kenaikan harga minyak. Investor akan mencermati perkembangan konflik AS-Iran mengenai potensi inflasi, dan prospek suku bunga.
OPEC+ juga melakukan pertemuan kali pertama tanpa UEA. Soal sektor teknologi, investor global akan mencermati listing initial public offering (IPO) SpaceX di Nasdaq, berpeluang akan menjadi IPO terbesar sepanjang sejarah pasar modal global. Nah, dari domestik, dijadwalkan rilis data ekonomi.
Yaitu, data cadangan devisa edisi Mei 2026, consumer confidence Mei 2026, dan retail sales April 20206. Pekan ini, gerak IHSG diperkirakan masih akan fluktuatif dengan kisaran support pada 5.400-5.500, dan resistance pada 5.700-5.800. Kondisi itu, dapat berpengaruh terhadap pergerakan IHSG.
Di antaranya depresiasi Rupiah, spekulasi rapat dewan Gubernur (RDG) darurat, rumor pergantian Menteri Keuangan (Menkeu) dan Gubernur Bank Indonesia (BI), kekhawatiran penurunan rating oleh S&P, kecemasan penurunan ke Frontier Market oleh MSCI, dan beberapa kebijakan Pemerintah mendapat respons negatif pasar.
Menilik sejumlah sentimen negativ itu, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Merdeka Gold Resources (EMAS), Merdeka Copper Gold (MDKA), Archi Indonesia (ARCI), Vale Indonesia (INCO), dan J Resources Asia (PSAB). (*)
Related News
PT SMI Lunasi Obligasi Rp945,2 Miliar Tepat Waktu
Pertamina Patra Niaga Gandeng KDKMP Pasok Jelantah untuk Avtur
Lindungi Masa Depan, Allianz Life Indonesia Sodorkan ini
BUMA Perkuat Kesiapan Kerja Generasi Muda melalui BUMA School
Tutup Perdagangan Oktober IHSG Turun ke 5.057, Market Cap Rp8.862 T
Pandu Sjahrir-Supra Sekuritas (SS) dan Paramita Bangun Sarana (PBSA)





