EmitenNews.com - Kesulitan memenuhi ketentuan minimum free float yang disyaratkan Bursa Efek Indonesi (BEI) membuat emiten dari entitas grup Djarum, PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) berencana delisting.

Berdasarkan keterbukaan informasi, manajemen SUPR mengatakan pengajuan rencana go private dan delisting diputuskan setelah evaluasi menyeluruh atas strategi bisnis jangka panjang perusahaan dalam pengelolaan aset dan kegiatan operasional, termasuk restrukturisasi kepemilikan saham dalam grup.

Selanjutnya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), selaku pemegang saham utama dan pengendali SUPR, akan melakukan penawaran untuk membeli saham yang dimiliki pemegang saham publik melalui tender sukarela, sebagaimana diatur dalam Peraturan OJK No. 54/POJK.04/2015. Harga yang ditawarkan Protelindo kepada para pemegang saham adalah sebesar Rp45.000 per saham.

Serupa dengan SUPR, PT Indointernet Tbk (EDGE) juga telah mengajukan delisting dan go private lebih awal. Keputusan itu diambil setelah EDGE melantai selama lima tahun di BEI.

Manajemen EDGE menuturkan alasan keputusan itu, di antaranya perubahan strategi bisnis perusahaan yang tidak lagi memerlukan capital raising serta keinginan untuk fokus mengelola portofolio investasi tanpa tekanan volatilitas harga saham atau publik.

Di sisi lain, saham EDGE tidak terlalu aktif diperdagangkan di bursa sehingga likuiditas menjadi terbatas yang membuat status perseroan tercatat sebagai perusahaan kurang efektif.

Menanggapi hal itu, Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada menilai ketentuan free float 15 persen yang ditetapkan BEI memiliki dua implikasi terhadap emiten. Di satu sisi ketentuan itu berpotensi mampu meningkatkan likuiditas pasar. Namun di sisi lain tidak semua emiten mampu beradaptasi, terlebih yang sahamnya tidak terlalu likuid.

“Ibaratnya ketika mereka keluarkan saham baru untuk memenuhi free float tersebut, maka siapa yang akan menyerapnya?” imbuh Reza.

Menurutnya, jika tidak ada relaksasi dari otoritas maka pilihan go private menjadi prioritas utama emiten-emiten tersebut, “Tentu ini yang sangat disayangkan, karena berdampak bagi perkembangan pasar ke depannya,” tutur Reza. (*)