EmitenNews.com. Emiten pelayaran logistik gas alam cair, PT GTS Internasional Tbk (GTSI), menggelar Paparan Publik (Public Expose) Tahunan 2025 pada hari ini, Kamis (18/12/2025 di Jakarta.  acara ini menjadi momentum penting bagi manajemen untuk menjelaskan arah bisnis perseroan pasca volatilitas harga saham dan kesuksesan mengamankan fasilitas pendanaan baru.

Direktur Utama GTSI, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, hadir langsung memimpin paparan kinerja didampingi jajaran manajemen.

Dalam paparan tersebut, sorotan utama investor tertuju pada strategi penggunaan fasilitas kredit senilai Rp1,19 triliun yang baru saja ditandatangani dengan BNI pada awal Desember lalu. Fasilitas ini rencananya akan dialokasikan untuk refinancing kapal LNG serta penguatan modal kerja.

"Kami melihat tahun 2026 sebagai tahun ekspansi dan efisiensi. Kami membidik pertumbuhan pendapatan sebesar 18%," ungkap Askhara di hadapan investor dan media.

Ia menambahkan bahwa perseroan juga berupaya menjaga profitabilitas yang sehat. "Kita akan pertahankan margin laba sama dengan tahun ini, yakni di kisaran 20%," tegasnya.

Untuk mencapai target pertumbuhan 18% tersebut, GTSI menetapkan fokus utama pada perluasan bisnis regasifikasi dan penambahan armada kapal baru di tahun 2026. Tidak sekadar menambah jumlah, perseroan kini membidik kapal dengan spesifikasi teknologi hijau (eco-friendly) untuk memenuhi standar tinggi klien internasional.

"Kita juga akan tambah lagi kapal dengan teknologi ramah lingkungan. Ini strategis untuk memenuhi kebutuhan klien perusahaan asing seperti BP," tambah Askhara.

Tanggapan Soal Suspensi Saham Manajemen GTSI juga menanggapi pergerakan harga saham yang sempat mengalami suspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 5 Desember lalu akibat lonjakan harga yang signifikan.

Askhara menyatakan pihaknya menghormati penuh keputusan regulator pasar modal tersebut. "Soal suspensi, saya menghormati apapun keputusan BEI karena memang itu menjadi domain BEI. Tapi kita sudah jelaskan secara transparan, tidak ada yang kita tutupi," jelasnya.

Ia pun berharap suspensi perdagangan saham dapat segera dicabut dalam waktu dekat. "Kami berharap suspensi bisa berakhir sebelum liburan Nataru (Natal dan Tahun Baru)," harap Askhara.