Gerai Tambah Banyak, Ini Strategi Laba Bersih MIDI Melesat 24%
:
0
Gerai Tambah Banyak, Ini Strategi Laba Bersih MIDI Melesat 24%. Dok. Alfamidi
EmitenNews.com - PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) baru saja merilis Laporan Keuangan Interim untuk paruh pertama tahun 2026 yang berakhir 30 Juni. Dari data yang tersaji, pengelola jaringan ritel Alfamidi ini tidak hanya mencatatkan pertumbuhan angka penjualan yang stabil, tetapi juga memperlihatkan kualitas manajemen biaya yang solid di tengah masifnya pembukaan gerai baru.
Mari kita telusuri lebih dalam performa bisnis dan keuangan MIDI, mulai dari kinerja penjualan hingga dampaknya terhadap kantong pemegang saham alias investor.
Keuangan MIDI Tumbuh dari Puncak Hingga ke Dasar
Dalam menganalisis sebuah perusahaan, kita biasanya melihat tiga lapisan utama: Top Line (pendapatan kotor/omzet), Middle Line (laba dari kegiatan inti), dan Bottom Line (laba bersih akhir). Pada periode ini, MIDI menunjukkan performa yang konsisten di ketiga lapisan tersebut.
- Top Line (Pendapatan) Tumbuh Organik
Kinerja penjualan MIDI menunjukkan pertumbuhan yang sehat. Pendapatan neto pada semester pertama 2026 tercatat sebesar Rp11,24 triliun. Angka ini mengindikasikan pertumbuhan sebesar 8,45% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama di tahun 2025 yang berada di angka Rp10,37 triliun, atau mencatatkan kenaikan absolut sebesar Rp876,52 miliar.
Pertumbuhan pendapatan tersebut ditopang oleh ekspansi organik jaringan ritel fisik perseroan yang mencakup format minimarket (Alfamidi), supermarket (Alfamidi Super), dan toko buah (Midi Fresh). Berdasarkan Catatan 1.a Laporan Keuangan per 30 Juni 2026, total keseluruhan jaringan operasional perseroan bertambah sebanyak 75 gerai neto menjadi 2.662 gerai, naik dari posisi akhir tahun 2025 yang tercatat sebanyak 2.587 gerai.
Secara rinci, ekspansi ini dikontribusikan oleh peningkatan minimarket milik sendiri dari 2.333 menjadi 2.395 gerai (+62), minimarket waralaba dari 170 menjadi 178 gerai (+8), serta supermarket milik sendiri (Alfamidi Super) dari 79 menjadi 85 gerai (+6). Di sisi lain, jumlah supermarket waralaba tidak mengalami perubahan di angka 1 gerai, sementara format toko buah milik sendiri (Midi Fresh) mengalami penyesuaian turun dari 4 menjadi 3 gerai (-1).
Dalam aspek pengakuan pencatatan keuangan, perseroan mengacu pada standar PSAK 115 mengenai "Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan". Nilai pendapatan dihitung setelah memperhitungkan potongan harga, retur, insentif penjualan, serta dikurangi Pajak Pertambahan Nilai (PPN), di mana pencatatan pendapatan diakui saat kontrol atas barang telah beralih sepenuhnya kepada pelanggan pada titik waktu tertentu. Alokasi terperinci atas rincian sumber pendapatan berdasarkan kategori lini produk maupun segmen spesifik dapat diakses melalui Catatan 17 Laporan Keuangan Interim perseroan.
- Middle Line (Profitabilitas Operasional), Margin yang Melebar
Pertumbuhan penjualan tersebut diikuti dengan kemampuan perusahaan mengelola biaya produksinya. Laba kotor tercatat sebesar Rp2,90 triliun, yang membuat Gross Profit Margin (GPM), yakni persentase sisa pendapatan setelah dikurangi biaya langsung penyediaan barang mengalami sedikit penguatan menjadi 25,79%, naik dari 25,40% pada Q2 2025.
Yang menarik, laba usaha (keuntungan dari kegiatan inti bisnis sebelum pajak dan bunga) tumbuh signifikan sebesar 22,42% YoY menjadi Rp623,36 miliar. Lonjakan ini terjadi karena perusahaan berhasil melakukan efisiensi. Beban umum dan administrasi, yaitu ongkos operasional harian seperti biaya kantor dan gaji berhasil ditekan menjadi Rp215,60 miliar dari sebelumnya Rp220,94 miliar pada tahun lalu.
Related News
Divestasi Teh Sariwangi Berbuah Dividen Jumbo, Kas UNVR Susut Drastis
Laba GJTL Meroket 76%, Rahasia Bisnis dan Keyakinan Lo Kheng Hong
Dari SWF Norwegia Hingga Dapen Malaysia, Ini Daya Tarik AKRA
SMSM Saham Genggaman Vanguard & Fidelity, Apa yang Membuatnya Menarik?
Laba BMRI Naik 24% Meski Kredit Susut, Ini Kekuatan Mesin Bisnisnya
Omzet AKRA Melesat 44%, Digendong Proyek KEK JIIPE & SPBU BP





