EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak cenderung koreksi. Itu menilik perdagangan sebelumnya datar menjurus melemah pada akhir sesi. Selain itu, harga minyak kembali menanjak.
Trigger inflasi didorong juga oleh lompatan harga energi, dan kekhawatiran kembali pengetatan moneter oleh central banks akhir tahun ini hingga tahun depan. ”Kami perkirakan Indeks bergerak pada rentang support 7.025, dan resisten 7.095,” tutur Alwin Rusli, Research Analyst Reliance Sekuritas Indonesia, Kamis (6/10).
Secara teknikal, Indeks setelah memantul dari support baru, saat ini indicator stochastic masih golden cross. Namun beberapa saham memiliki potensi naik untuk perdagangan hari ini antara lain AMAR, INDY, INCO, BRMS, AUTO, SMDR, ERAA, dan SCMA.
Kemarin, Indeks Kembali menghuni zona hijau setelah naik 0,04 persen 7.075. Beberapa sektor menguat antara lain energi surplus 3,18 persen, transportation & logistic naik 2,17 persen, dan basic materials menguat 2 persen. Investor asing membukukan net sell Rp221 miliar dengan saham paling banyak dilepas BBCA, BBRI, dan BUMI.
Sementara itu, tiga indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street tersungkur. Para investor melihat masih khawatir terjadi hard landing sehingga memperburuk ekonomi AS. Semenatra itu US Treasury Yield kembali naik, dan The Fed akan menaikkan suku bunga pada sisa tahun ini.
Selain itu, neraca dagang AS mengalami defisit, dan non-manufacturing PMI mengalami penurunan. Pagi ini, bursa Asia menghuni zona hijau. Indeks Nikkei 225 menguat 0,68 persen, dan Kospi menanjak 1,23 persen. (*)
Related News
Mayoritas Sektor Menguat, IHSG Lompat 1,22 Persen ke Level 8.031
IHSG Bangkit ke 8.012 di Sesi I (9/2), Saham Emas Kompak Terbang
BTN Mantapkan Transformasi sebagai Mitra Finansial Keluarga Indonesia
Produksi Beras Awal 2026 Berpotensi Naik 15,79 Persen
Pertamina-SGN Bangun Pabrik Bioetanol Kapasitas 30 Ribu KL/Tahun
Purbaya Ajak Aparat Pajak Perbaiki Kinerja, Jangan Kalah Sama 'Pemain'





