EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia merosot hingga di bawah USD83 per barel pada perdagangan Kamis, sekaligus menghentikan tren kenaikan yang sempat berlangsung selama lima hari berturut-turut. Penurunan harga ini terjadi saat para pelaku pasar dan investor mencermati perkembangan prospek kesepakatan terkait pembukaan kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz.

Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran masih memicu dinamika di pasar energi. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS telah memegang kendali penuh atas jalur perairan tersebut di tengah lonjakan retorika antara Washington dan Teheran, meski proses negosiasi hingga kini masih menemui jalan buntu.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Trading Economics, Pemerintah AS di bawah kepemimpinan Trump juga bergerak menerapkan tekanan ekonomi yang lebih besar terhadap Iran. "Langkah-langkah tersebut termasuk memperluas sanksi ekonomi dan memberlakukan blokade angkatan laut yang bertujuan untuk membatasi ekspor minyak Iran," rilis Trading Economics mengenai perkembangan konflik di kawasan tersebut.

Sementara itu, laporan bulanan International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa pasar minyak global menghadapi ancaman kekurangan pasokan hingga 1,8 juta barel per hari pada kuartal ini akibat konflik Timur Tengah yang berlarut-larut. Di sisi lain, data Energy Information Administration (EIA) mencatat persediaan minyak mentah AS justru melonjak sebesar 17,4 juta barel pada pekan lalu, yang menjadi lonjakan mingguan terbesar sejak awal 2023.

Penurunan harga minyak mentah global ini menjadi perhatian penting bagi perekonomian Indonesia. Fluktuasi harga energi dunia berdampak langsung pada beban subsidi energi domestik, asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN, hingga pergerakan harga bahan bakar minyak di dalam negeri.(*)