EmitenNews.com - Bursa saham kawasan Asia-Pasifik bergerak menguat pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Sentimen positif ini melanjutkan reli pemulihan ekuitas global seiring melandainya harga minyak mentah yang meredakan kekhawatiran inflasi kawasan.

Berdasarkan data BigGo Finance, Indeks Saham Asia-Pasifik MSCI mencatatkan kenaikan 0,3%. Penguatan dipimpin oleh Kospi Korea Selatan, diikuti Indeks Hang Seng Hong Kong yang naik 0,9% ke level 24.834,41, Indeks Komposit Shanghai bertambah 0,8% ke 3.907,64, Nikkei 225 Tokyo menguat 0,7% ke 64.554,64, serta S&P/ASX 200 Australia yang naik 0,4%.

Pemicu utama gairah pasar pasar Asia berasal dari penurunan harga minyak mentah dunia untuk sesi ketiga berturut-turut. Minyak mentah jenis Brent melorot hingga di bawah USD104 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,7% ke level USD101,23 per barel. Penurunan ini terjadi setelah Arab Saudi memulihkan separuh kapasitas pipa minyak Timur-Barat yang sempat terganggu akibat serangan pesawat tak berawak.

Laporan Reuters turut menyebutkan adanya langkah diplomasi China yang meminta pihak Iran untuk membantu mengendalikan aksi militan Houthi di sekitar Selat Bab el-Mandeb, guna mengurangi potensi gangguan jalur pasokan energi global.

Penurunan biaya energi ini berdampak langsung pada penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar sembilan basis poin menjadi 4,93%, yang sekaligus melonggarkan tekanan pasar keuangan global.

Analis dari Forex.com, Fawad Razaqzada, memberikan penjelasan terkait penyesuaian sentimen pasar tersebut.

"Sentimen telah terangkat sebagian karena harga minyak mentah turun untuk hari kedua berturut-turut, sehingga mengurangi tekanan pada imbal hasil obligasi," kata Fawad Razaqzada.

Menguatnya bursa Asia dan penurunan harga minyak mentah global ini memberikan sentimen positif bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah. Melandainya harga minyak mentah dapat mengurangi beban impor energi nasional dan menahan laju inflasi, sementara kembalinya gairah pasar regional berpotensi mendorong aliran modal asing (capital inflow) masuk ke Bursa Efek Indonesia (BEI).(*)