Hijau yang Berbahaya: Saat IHSG Menguat Tapi Risiko Belum Pergi
Lantai perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta.
Penguatan IHSG patut diapresiasi sebagai sinyal stabilisasi jangka pendek. Namun menjadikannya sebagai bukti bahwa seluruh tekanan telah berlalu mungkin terlalu dini. Pasar dapat bergerak naik dalam jangka pendek, tetapi keberlanjutan tren membutuhkan dukungan fundamental dan likuiditas yang konsisten. Dalam siklus pasar, fase paling berbahaya sering kali bukan saat indeks merah menyala, melainkan ketika warna hijau membuat pelaku pasar lengah. Optimisme memang diperlukan, tetapi harus diimbangi dengan kewaspadaan. Pada akhirnya, investasi bukan sekadar soal mengikuti arah indeks, melainkan memahami konteks di balik pergerakannya. Hijau bisa menjadi awal pemulihan, tetapi juga bisa menjadi ujian bagi kedisiplinan investor. Di tengah ketidakpastian global dan domestik yang belum sepenuhnya reda, satu hal tetap relevan: pasar menghargai keberanian, tetapi lebih menghormati kehati-hatian.
Related News
BEI Tunduk pada MSCI: Integrasi Global atau Pengorbanan Emiten Lokal?
Menakar Dampak Aturan Baru Free Float 15 Persen Bursa Efek Indonesia
Pembekuan Izin Underwriter: Alarm Keras bagi Tata Kelola Pasar Modal
IPO Dulu, Masalah Kemudian: Ada Apa dengan Pengawasan OJK dan BEI?
Danantara Masuk Bursa, BPJS Tambah Porsi Saham: Akhir Era Dana Asing?
Seruan Serok Saham di Tengah Krisis: Logika vs Realitas Investor Ritel





