IHSG Berpotensi Uji Resistance 6765, Ini Rekomendasi BUKA, MTEL , STAA, BBRI dan UNVR
:
0
EmitenNews.com -
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat pada awal pekan ini, rebound dari kekalahan minggu lalu seiring para investor menunggu data ekonomi penting yaitu US CPI & PPI untuk bulan Juni yang sedianya dirilis hari Rabu & Kamis mendatang; sementara itu para pejabat Federal Reserve mengeluarkan pernyataan bahwa mungkin trend naik suku bunga sudah mendekati akhirnya. CPI dari negara ekonomi terbesar dunia ini diharapkan mampu semakin melandai ke tingkat 3.1% YoY (merupakan laju pertumbuhan terlambat sejak Maret 2021). Secara bulanan, juga diperkirakan hanya sedikit terakselerasi sebesar 0.3% MoM.
Sementara itu, Inflasi Inti yang sangat dipantau oleh para pembuat kebijakan Federal Reserve, diprediksi berada di posisi 5% YoY dan 0.3% MoM. Para pelaku pasar akan sangat fokus melihat apakah tekanan Inflasi bisa semakin menjinak, yang mana bisa menjelaskan prospek trend suku bunga di mana banyak pelaku pasar telah memperhitungkan 92% kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25bps pada FOMC Meeting bulan ini (seperti dilansir dari Fed Rate Monitor Tool milik Investing.com). Di tempat lain, beberapa pejabat Fed mengatakan pada hari Senin bahwa kenaikan suku bunga lanjutan masih diperlukan untuk menurunkan Inflasi yang masih terlalu tinggi, tetapi akhir dari siklus kebijakan moneter ketat bank sentral AS saat ini semakin dekat.
Head Of Research NH Korindo Sekuritas Liza C. Suryanata menyebut bahwa mengawali pekan sarat data Inflasi ini, tekanan deflasi terungkap semakin memuncak di China secara Producer Price Index (PPI) mereka turun 5,4% YoY pada bulan Juni akibat permintaan domestik dan asing yang sama-sama melemah. Ini merupakan penurunan paling tajam sejak 2015 dan lebih curam dari perkiraan analis 5,0%. Selain itu, indeks harga konsumen juga flat alias 0% YoY dengan penyebab utama adalah turunnya harga daging babi (pork) sebesar 7.2%. CPI yang tak mampu penuhi konsensus 0.2% ini merupakan pertumbuhan yang paling lambat sejak 2021. Rilis data tersebut memperkuat spekulasi bahwa bank sentral China akan terus memangkas suku bunga dan mengungkap langkah-langkah stimulus baru demi menyediakan bahan bakar bagi pemulihan ekonomi pasca-pandemi.
Data ekonomi China yang lemah di atas sontak mengirim harga minyak mentah dunia terkoreksi sekitar 0.9% (setelah minggu lalu naik hampir 5%) seiring prospek turunnya permintaan dari negara importir minyak terbesar dunia.
Hari ini giliran benua Eropa yang akan merilis sejumlah data penting terkait ketenagakerjaan dan upah pekerja (Inggris), disusul Jerman yang akan mengumumkan data Inflasi Juni mereka. Jerman juga akan mengungkapkan sentimen & pandangan ekonomi 6 bulan ke depan melalui data ekonomi German ZEW Current Conditions & Economic Sentiment (Juli) yang mana diprediksi masih akan menyiratkan aura pesimisme.
Related News
Asyik! Emiten Ini Bakal Cum Date Dividen Awal Mei, Cek Jadwalnya
DSSA, CMNP, dan MEGA Ramaikan Saham Top Losers Pekan Ini
Telisik! Barisan Saham Top Gainers dalam Sepekan
IHSG Susut 2,42 Persen, Kapitalisasi Pasar Sisa Rp12.382 Triliun
Kemendag Minta Klarifikasi Traveloka Terkait Refund Pembatalan Tiket
Dubes China Dukung Perluasan Akseptasi QRIS di Negaranya





