EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 343,19 poin atau 4,32 persen ke level 7.596,57 pada akhir perdagangan sesi I, Rabu (4/3/2026). Tekanan masif terjadi di tengah sentimen perang Timur Tengah serta pemangkasan outlook peringkat utang Indonesia oleh Fitch Ratings.

IHSG juga sebelumnya pada pukul 10.30 JATS sempat jatuh ke titik terendah harian sedalam 394,82 poin atau 4,41 persen ke level 7.589,94. Sejalan dengan IIHS, indeks unggulan LQ45 juga kala itu ikut mengekor terperosok 4,19 persen ke posisi 771,81.

Data perdagangan menunjukkan sebanyak 713 saham terkoreksi, 63 saham masih menguat, dan 37 lainnya stagnan. Total volume transaksi mencapai 35,07 miliar saham dengan nilai perdagangan sebesar Rp18,10 triliun.

Mayoritas saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat indeks. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) turun 10,3 persen, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) terkoreksi 7,8 persen, dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) melemah 5,9 persen.  

Seluruh indeks sektoral terkoreksi dalam. IDX Basic ambles 8,03 persen, IDX Trans turun 6,80 persen, IDX Cyclical melemah 5,60 persen, IDX Infra terkoreksi 5,07 persen, dan IDX Energy turun 4,82 persen.

Tekanan juga menjalar ke IDX Industry yang melemah 4,46 persen, IDX Non-Cyclical turun 3,62 persen, IDX Property terkoreksi 3,34 persen, IDX Finance melemah 2,97 persen, IDX Techno turun 2,60 persen, serta IDX Health terkoreksi 2,22 persen.

Tekanan domestik selaras dengan pelemahan bursa Asia. Bursa Indeks Nikkei melemah 1.653,80 poin atau 2,94 persen ke 54.625,30, indeks Shanghai melemah 29,50 atau 0,73 persen ke 4.094,17, indeks Hang Seng melemah 433,34 poin atau 1,68 persen ke 25.334,74, indeks Kuala Lumpur melemah 4,29 poin atau 0,25 persen ke 1.707,66, dan indeks Strait Times menguat 82,39 poin atau 1,68 persen ke 4.835,25.

Indeks KOSPI dan Nikkei 225 terkoreksi tajam, bahkan bursa Seoul sempat mengalami trading halt setelah turun lebih dari 8 persen.

Pelaku pasar mencermati eskalasi konflik Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak serta meningkatnya aversi risiko global.

Kombinasi sentimen eksternal dan faktor domestik tersebut mendorong aksi jual besar-besaran pada saham-saham berkapitalisasi jumbo hingga menyeret IHSG ke zona koreksi dalam pada sesi I hari ini.