Inflasi Jepang Rekor Tertinggi 6 Bulan Usai Subsidi Energi Dipangkas
:
0
Tingkat inflasi tahunan Jepang meningkat menjadi 1,7 persen pada Juni 2026 dari 1,5 persen pada bulan sebelumnya. (Foto: Magnific)
EmitenNews.com - Tingkat inflasi tahunan Jepang meningkat menjadi 1,7 persen pada Juni 2026 dari 1,5 persen pada bulan sebelumnya. Angka ini menandai tingkat inflasi tertinggi di Jepang sejak Desember lalu.
Peningkatan inflasi tersebut sebagian besar didorong oleh penurunan harga listrik dan gas yang berjalan lebih lambat seiring dengan pengurangan subsidi energi oleh pemerintah setempat.
Berdasarkan data Trading Economics, tekanan harga tercatat menguat pada sektor transportasi yang naik menjadi 2,4 persen dari 1,9 persen pada Mei, perumahan naik menjadi 1,0 persen dari 0,9 persen, serta barang rumah tangga yang mencapai 2,4 persen dari sebelumnya 2,2 persen.
Selain itu, sektor perawatan kesehatan naik menjadi 1,3 persen dan barang-barang lain-lain naik menjadi 0,3 persen. Sementara itu, inflasi pakaian tercatat stabil pada angka 1,7 persen.
Di sisi lain, inflasi rekreasi melambat menjadi 1,5 persen dari 1,7 persen, sedangkan sektor pendidikan masih mengalami deflasi sebesar minus 6,0 persen dari sebelumnya minus 6,1 persen. Pada sektor pangan, kenaikan harga melambat menjadi 3,2 persen secara tahunan dari 3,5 persen pada Mei, yang menjadi laju terlemah sejak Juli 2024 akibat penurunan harga beras selama dua bulan berturut-turut.
Inflasi inti Jepang, yang mengecualikan makanan segar tetapi memperhitungkan energi, naik menjadi 1,6 persen pada Juni 2026 dari 1,4 persen pada Mei. Capaian ini sesuai dengan perkiraan pasar dan menjadi level tertinggi sejak Maret.
Meski demikian, angka tersebut tetap berada di bawah target 2 persen yang ditetapkan Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) selama lima bulan berturut-turut. Hal ini terjadi karena subsidi bahan bakar pemerintah mengimbangi tekanan harga minyak imbas konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, indeks yang tidak memperhitungkan makanan segar dan bahan bakar tercatat naik 1,7 persen secara tahunan pada Juni, yang merupakan kenaikan terlemah sejak Agustus 2022. Indeks ini dipantau ketat oleh BOJ sebagai tolok ukur pergerakan harga yang didorong oleh permintaan masyarakat.
Untuk mencegah kenaikan harga minyak memicu inflasi lebih lanjut, BOJ telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juni. Langkah ini membawa suku bunga ke level tertinggi sejak September 1995 sekaligus menjadi kenaikan pertama sejak Desember lalu.
Dinamika kenaikan inflasi dan kebijakan suku bunga BOJ ini turut menjadi perhatian para pelaku pasar di Indonesia, mengingat Jepang merupakan salah satu mitra dagang dan investor utama bagi perekonomian nasional.(*)
Related News
Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak Tekan Harga Emas ke USD 4.050
Yen Anjlok Terendah 40 Tahun, AS Desak BOJ Naikkan Suku Bunga
Harga Minyak Brent Tembus USD 100, Bursa Saham AS Ikut Anjlok
AS Kenakan Indonesia Tarif Tambahan 10%, Masuk Daftar 60 Negara
AS Marah Uni Eropa Denda Google Rp18 Triliun
Timur Tengah Mencekam, Harga Minyak Lewati 100 Dolar per Barel





