EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah pada awal perdagangan Kamis (17/9/2026). Berdasarkan data konversi real-time Google per pukul 08.00 WIB, rupiah berada di tingkat Rp17.714 per dolar AS, terkoreksi tipis dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.696 per dolar AS.

Berdasarkan data pasar Bloomberg dan indikator valuta asing global, pergerakan mata uang Garuda cenderung defensif dan berpotensi menghadapi tekanan lanjutan sepanjang hari. Sementara itu, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat berada di kisaran Rp17.687 per dolar AS pada penutupan sesi sebelumnya.

Pelemahan rupiah pada pembukaan perdagangan pagi ini dipicu oleh sentimen global pasca-pengumuman hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Federal Reserve (The Fed) secara resmi mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00% pada Rabu sore waktu AS.

Selain kenaikan suku bunga, The Fed mengisyaratkan peluang satu kali pengetatan moneter lanjutan sebelum akhir tahun guna menekan laju inflasi AS. Sinyal hawkish tersebut mendorong indeks dolar AS menguat secara signifikan terhadap jajaran mata uang utama dunia dan regional Asia, termasuk rupiah.

Faktor pendukung penguatan dolar AS lainnya berasal dari rilis data ekonomi AS yang solid. Penjualan ritel AS bulan Agustus tercatat tumbuh 1,2%, melampaui ekspektasi pasar. Ketahanan ekonomi AS tersebut kian memperkuat persepsi pelaku pasar bahwa bank sentral AS akan mempertahankan tingkat suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer).

Dari dalam negeri, pelaku pasar kini mencermati langkah intervensi Bank Indonesia di pasar spot dan pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) guna menjaga stabilitas nilai tukar. Penyesuaian imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) juga diprediksi menjadi tumpuan untuk menahan laju arus modal keluar (capital outflow) di tengah keperkasaan dolar AS.(*)