Investor Hadapi Musim Laporan Keuangan, Indeks Saham Asia Dibuka Naik
:
0
EmitenNews.com - Indeks saham di Asia pagi ini Jumat (8/4) dibuka naik setelah semalam indeks saham utama di Wall Street melakukan reli.
Indeks saham Wall Street berbalik arah menjadi positif di akhir sesi perdagangan setelah menghabiskan sebagian besar waktu di zona merah.
Menurut analis Phillip Sekuritas, Dustin Dana Pramitha, investor mempersiapkan diri menghadapi musim laporan keuangan (earnings season) 1Q22 yang akan dimulai minggu depan, diawali dengan rilis laporan keuangan 5 bank besar yakni JPMorgan, Citigroup, Goldman Sachs, Morgan Stanley and Wells Fargo.
"Investor juga masih memantau perkembangan terkini dari perang antara Rusia dan Ukraina," tambahnya.
Pemerintah AS menjatuhkan putaran terbaru sanksi ekonomi atas Rusia yang mencakup pelarangan investasi di Rusia oleh perusahaan AS. Selain itu sanksi juga mentargetkan 2 putri dewasa Presiden Vladimir Putin.
Menteri Keuangan AS, Janet Yellen dalam keterangan di depan Komite Jasa Keuangan DPR (The House Financial Services Committee) AS mengatakan Rusia harus dikeluarkan dari kelompk ekonomi besar G20 dan AS akan memboikot berbagai pertemuan G20 jika delegasi Rusia turut berpartisipasi.
Menteri Luar negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan Ukraina telah menyerahkan draft kesepakatan damai dimana terkandung sejumlah elemen yang tidak dapat di terima oleh Ruisia.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury note) bertenor 10 tahun naik 3.8 bps menjadi 2.65%, tertinggi dalam 3 tahun sementara yield surat utang Pemerintah AS bertenor 2 tahun turun 4.5 bps menjadi 2.45%.
"Selisih imbal hasil antara kedua surat utang tersebut semakin melebar karena investor menajamkan fokus mereka pada laju dan nilai dari rencana Fed merampingkan neraca mereka. Yaitu pengurangan Neraca sebesar USD95 miliar per bulan setelah pertemuan kebijakan Federal Reserve pada bulan Mei yang akan datang," jelas Dustin.
Jumlah ini hampir dua kali lebih tinggi dari episode penguragan Neraca yang terjadi selama periode 2017- 2019. Dengan kata lain, Federal Reserve sedang menginjak rem secara mendadak dan hal ini akan memberi dampak positif pada mata uang USD. Di pasar valuta asing, Dollar Index naik ke level 99,82, tertinggi sejak akhir Mei 2020.
Related News
Rupiah Ditutup Menguat Tipis, Prediksi Pekan Depan Bagaimana?
Honda Akui Susah Lawan Mobil Listrik Murah Buatan China
Perbankan Tadah KLM Rp427,9 Triliun Awal April
AS Raih 'Berkah' Nyerang Iran, Catat Rekor Tertinggi Ekspor Minyak
Target Kementan 2026, Produksi Gula Kristal Putih 3,04 Juta Ton
Kembangkan PLTS Berbasis Koperasi, LPDB Siapkan Rp2,1 Triliun





