EmitenNews.com - Summarecon Agung (SMRA) tengah menghadapi problem serius. Itu menyusul pentolan perusahaan menjadi pesakitan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ya, Adrianto Pitojo Adhi masuk rombongan 17 orang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) komisi antirasuah tersebut.

Kasus yang mendera presiden direktur emiten properti tersebut jelas menodai good corporate governance (GCG). Di mana, GCG menjadi salah satu ruh praktik bisnis perusahaan terbuka. Sistem tata kelola yang mengatur, dan mengendalikan perusahaan agar tercipta nilai tambah, dan pengelolaan secara profesional.

Fakta OTT oleh KPK itu menguak tabir palsu penerapan GCG. Apalagi, tindakan tersebut dilakukan oleh pucuk pimpinan yang seharusnya menjadi suri tauladan, dan model bagi bawahan. Namun, apapun itu, tindakan tersebut jelas tidak terjadi di ruang hampa. 

Turbulensi Hebat  

Merespons kasus itu, pasar menghukum dengan kejam. Saham SMRA langsung dibanting habis-habisan. Terpangkas 13,25 persen setara 44 poin menjadi Rp288 per helai. Saham SMRA mengawali perdagangan di level Rp328, menyentuh level tertinggi Rp330, dan terendah di posisi Rp284.

Kalau dikalkulasi 1 tahun terakhir, saham SMRA telah terkoreksi 37,12 persen alias 170 poin dari edisi 16 September 2025 di posisi Rp458 per helai. Dalam tempo 52 Minggu terakhir, saham SMRA pernah mengorbit di levvel tertinggi Rp470 per eksemplar, dan terendah Rp254.

SMRA dibekali dengan nilai kapitalisasi pasar Rp4,75 triliun dengan dukungan price earning rasio 7,98 kali. Menilik kinerja paruh pertama 2026, SMRA meraup pendapatan Rp4,25 triliun, anjlok 7,18 perssen dibanding periode sama tahun lalu Rp4,58 triliun. Laba bersih tercatat menukik 33,98 persen YoY menjadi Rp332,39 miliar.

Penurunan itu, seiring koreksi pendapatan, ditopang lini pengembangan properti Rp2,55 triliun, properti investasi Rp1,2 triliun, rekreasi atau perhotelan Rp249,62 miliar, dan segmen lainnya Rp244,04 miliar. Total aset meningkat 7,72 persen menjadi Rp41,30 triliun.

Tak Lupa Dividen

SMRA membagi dividen tunai untuk tahun buku 2025 senilai Rp82,54 miliar. Alokasi dividen itu, diambil sekitar 10,76 persen dari laba tahun berjalan dapat diatribusikan kepada entitas induk alias laba bersih tahun buku 2025 sejumlah Rp766,55 miliar. Dengan demikian, para investor mendapat suntikan dividen Rp5 per eksemplar.