EmitenNews.com - Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta menilai tembusnya IHSG ke bawah level psikologi 6.000 merupakan imbas dari kombinasi tekanan eskternal dan domestik.

Kata Nafan, ketika indeks menembus level psikologis 6.000, maka tekanan jual berpotensi semakin besar karena investor cenderung meningkatkan aksi profit taking, mengurangi eksposur risiko, dan menunggu konfirmasi stabilisasi pasar sebelum kembali masuk.

Sebab, untuk menentukan sentimen yang paling dominan, perlu mencermati pergerakan saham berkapitalisasi besar, nilai transaksi, serta arus dana investor asing.

“Penembusan IHSG ke bawah level psikologis 6.000 perlu dilihat sebagai kombinasi tekanan eksternal dan domestik, dengan sentimen kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia menjadi salah satu faktor penting,” kata Nafan kepada EmitenNews, Senin (12/10) sore.

Selain itu, menjelang review MSCI pada November mendatang juga berpotensi menjadi salah satu penekan signifikan.

Menurut Nafan, kekhawatiran investor terhadap evaluasi MSCI pada 11 November 2026, terutama terkait transparansi pasar, keterbukaan informasi kepemilikan saham, dan kecukupan free float, dapat mendorong investor asing bersikap lebih defensif terhadap saham-saham Indonesia.

Karena, jika ketidakpastian tersebut belum teratasi, risiko pengurangan bobot saham Indonesia dalam portofolio berbasis indeks global dapat memicu antisipasi arus keluar dana asing.

“Meski demikian, isu MSCI bukan satu-satunya penyebab koreksi, karena sentimen global, pergerakan rupiah, imbal hasil obligasi AS, dan persepsi risiko domestik juga dapat memperkuat tekanan jual,” lanjut Nafan.

Begitu pun dengan Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis. Ia menilai, melemahnya IHSG di antaranya terdampak sentimen negatif dari ketidakpastian global yang masih tinggi.

Di samping itu, harga minyak Brent yang bertahan di atas USD 100 per barel, berpotensi menimbulkan kekhawatiran capital outflow di pasar obligasi Indonesia, serta isu terkait MSCI.