Jejak Yagi Forest, Menjaga Hutan Aceh, dan Memikat Pasar Global
:
0
Yagi Forest, produk skincare lokal menuju panggung pasar global. Foto - Dok Yagi.co.id
EmitenNews.com - Di balik helai daun dan keasrian hutan Indonesia, terkandung kekayaan alam tidak bernilai. Bagi Farhaniza, Founder Yagi Forest, kekayaan ini bukan sekadar bahan baku, melainkan fondasi dari sebuah filosofi perawatan diri selaras dengan kelestarian bumi. Berawal dari Aceh, Yagi Forest tumbuh menjadi lini produk perawatan tubuh berkomitmen untuk menghadirkan produk kecantikan alami berkelanjutan.
Langkah Yagi Forest membuktikan inovasi lokal tidak hanya mampu menjawab kebutuhan perawatan kulit, tetapi juga membawa misi besar pelestarian lingkungan hingga ke mancanegara. Mengusung konsep Forest Skincare, Yagi Forest memanfaatkan bahan-bahan alami yang dipanen secara etis dari hutan-hutan Indonesia.
Keunggulan produk itu, ditopang Biossential Technology, sebuah teknologi inovatif menjaga potensi kebaikan alam tetap utuh sekaligus memastikan seluruh formula mudah terurai kembali oleh lingkungan (biodegradable). Kekuatan utama produk Yagi Forest terletak pada racikan bahan-bahan lokal pilihan dari berbagai pelosok Nusantara yang kaya akan manfaat kulit sekaligus berpihak pada kelestarian ekosistem.
Beberapa di antaranya serbuk kopi gayo Aceh, kemiri Aceh, dan cengkeh Aceh. Selain dari hasil alam Aceh, Yagi juga menggunakan kayu manis dari Kerinci, kenanga Jawa, merica hitam Halmahera, dan bunga Magnolia dari Bali. Seluruh bahan alami itu, dibudidayakan melalui praktik agroforestry dan pertanian berkelanjutan bersama petani lokal.
”Kami percaya kecantikan sejati lahir dari pemberian alam paling murni. Komitmen kami melampaui sekadar perawatan kulit; ini wujud rasa hormat mendalam terhadap bumi dan sumber dayanya. Dengan menerapkan praktik berkelanjutan di setiap tahapan, kami ingin merawat kulit pengguna sekaligus menjaga planet ini,” tegas Farhaniza, Founder Yagi Forest.
Langkah nyata Yagi Forest terhadap lingkungan terbukti dari dampak positif telah mereka catat. Hingga saat ini, Yagi Forest berhasil menggantikan lebih dari 1.500 kilo gram (kg) bahan kimia keras, dan surfaktan pencemar air, menolak penggunaan 418 kg bahan mikroplastik, dan mencegah masuknya 198 kg bahan kimia pengganggu hormon (endocrine disruptors) dalam seluruh produk yang dihasilkan.
Keseriusan itu, menjadikan Yagi Forest sebagai pabrik kosmetik pertama Aceh telah mengantongi sertifikasi BPOM, dengan kapasitas produksi mencapai 10 ribu produk setiap bulan. Selain mengembangkan brand mandiri, Yagi Forest juga membuka layanan white label, pasokan untuk hotel, agen perjalanan, spa, hingga Original Equipment Manufacturer (OEM). Perjalanan membangun produk kecantikan berbasis keberlanjutan tentu tidak lepas dari tantangan.
Farhaniza mengenang titik tersulit di awal berdirinya Yagi Forest adalah membangun pemahaman, dan kepercayaan masyarakat terhadap efektivitas produk alami. "Tantangan terbesar kami di awal mengedukasi pasar, dan mendapat kepercayaan konsumen. Kami ingin membuktikan produk berbahan alami dapat dikembangkan dengan tetap mempertahankan standar kualitas, dan keamanan tinggi," ujar Farhaniza.
Tantangan tersebut justru menempa Yagi Forest untuk terus berinovasi dan memperkuat identitasnya. Kini, setelah memperkokoh fondasi di dalam negeri dan berpartisipasi dalam berbagai pameran internasional seperti MIHAS di Malaysia, Osaka Expo di Jepang, serta OHEC di Oman, Yagi Forest bersiap melangkah lebih jauh. Melalui keikutsertaannya dalam Trade Expo Indonesia (TEI), Yagi Forest membidik peluang kerja sama dengan distributordan mitra bisnis internasional.
TEI dipandang sebagai ruang strategis untuk memperkenalkan potensi keanekaragaman hayati Indonesia ke pasar internasional kian peduli pada sustainable beauty. "Melalui TEI, kami berharap dapat membuka jalur kemitraan global, dan memahami lebih dalam kebutuhan pasar internasional. Kami ingin membawa produk asal Aceh yang mengangkat kearifan alam hutan Indonesia, dan nilai keberlanjutan ke panggung dunia," tutup Farhaniza optimis.
Related News
Banting Setir BIKE, Dari Bisnis Sepeda ke Tambang
Asa Baru Jurnalis TV Menjadi Wirausaha Ayam Petelur
Meta Luncurkan Model AI Baru Canggih, OpenAI Lewat
Omoda 5 Lepas As, Chery Investigasi Besar-besaran, Termasuk Indonesia
Pimpin Transformasi GIAA, ini Rekam Jejak Thomas Oentoro
The Social Reckoning (1): Saat Algoritma Memecah Belah Masyarakat





