Jelang Tutup 2025, Begini Performa Industri Perbankan RI
:
0
Ilustrasi performa perbankan. FOTO-DOK Jadi OJK
EmitenNews.com - Jelang tutup tahun 2025, performa industry perbankan masih terbilang tumbuh stabil. Catatan-catatan ini bisa terlihat dari data yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Data-data tersebut meliputi penyaluran kredit, dana pihak ketiga (DPK), tingkat suku bunga, kredit bermasalah (non performing loan/NPL), hingga tingkat permodalan (capital adequacy ratio/CAR).
Dalam paparannya belum lama ini, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan, kinerja intermediasi perbankan meningkat dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas di level yang memadai. Pada Oktober 2025, kredit tumbuh 7,36% yoy (Sep-25: 7,70%) menjadi sebesar Rp8.220,21 triliun.
Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 15,72%, diikuti oleh Kredit Konsumsi tumbuh 7,03%, sementara Kredit Modal Kerja tumbuh 2,39% yoy. Dari kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 11,02%, sementara kredit UMKM terkontraksi 0,11% yoy.
Pertumbuhan kredit sebesar 7,36% tersebut terutama dikontribusikan dari pertumbuhan pada sektor rumah tangga sebesar 7,28%, diikuti industri pengolahan sebesar 7,53%, serta pertambangan dan penggalian sebesar 14,58%.
Selanjutnya, penyaluran kredit ke beberapa sektor tercatat tumbuh tinggi secara tahunan mencapai double digit antara lain pada sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial sebesar 36,79%; pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin sebesar 26,40%; aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis sebesar 25,32%, dan aktivitas jasa lainnya sebesar 22,84%.
Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh tinggi sebesar 11,48% yoy (Sep-25: 11,18%) menjadi Rp9.756,6 triliun. BI-Rate tetap stabil setelah turun 125 bps sejak awal tahun, dan telah diikuti dengan penurunan suku bunga perbankan secara bertahap.
Dibandingkan tahun sebelumnya, rerata tertimbang suku bunga kredit rupiah tercatat turun 16 bps (yoy) dan 5 bps (mtm) menjadi 9,01% pada Okt-25 dari 9,17% pada Okt-24 dan 9,06% pada Sep-25, utamanya didorong penurunan suku bunga kredit produktif.
Suku bunga Kredit Modal Kerja turun 42 bps (yoy) dan 16 bps (mtm) menjadi 8,30% pada Okt-25 dari 8,72% pada Okt-24 dan 8,46% pada Sep-25. Sementara itu, suku bunga Kredit Investasi turun 39 bps (yoy) namun masih meningkat 7 bps (mtm) menjadi 8,32% pada Okt-25 dari 8,71% pada Okt-24 dan 8,25% pada Sep-25.
Dari sisi penghimpunan dana, rerata tertimbang suku bunga DPK rupiah juga terpantau menurun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 10 bps (Okt-25: 2,85%; Sep-25: 2,95%) dengan penurunan pada semua jenis DPK, terutama deposito, sejalan dengan tren penurunan suku bunga BI-Rate. Suku bunga tertimbang DPK juga turun 22 bps dibandingkan Oktober tahun lalu sebesar 3,07%. Adapun suku bunga Deposito tercatat turun 53 bps (yoy) dari 5,28% pada Okt-24 dan 21 bps (mtm) dari 4,96% pada Sep-25 menjadi 4,75% pada Okt-25.
Related News
REI Nilai Tenor KPR 40 Tahun Perluas Akses Rumah bagi Pekerja Informal
Tol Pendukung Pariwisata di Jateng Triwulan I Tumbuh di Atas 15 Persen
Ikuti Indonesia, Malaysia Batasi Medsos Bagi Usia di Bawah 16 Tahun
Hingga April 2026 QRIS Digunakan 45 Juta Merchant, Mayoritas UMKM
Usai Diterpa Pengumuman FTSE, Ini Prediksi IHSG Pekan Depan
CUAN, DSSA, TPIA, WBSA, dan RLCO Ramaikan Top Losers Pekan ini





