EmitenNews.com - Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor logistik nasional dengan mendorong pengembangan Dry Port Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).

Hal ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara sejumlah pihak strategis, termasuk PT Kereta Api Indonesia, PT Pelabuhan Indonesia, PT KITB, dan PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah untuk Kerja Sama Pembangunan, Pengembangan, dan Pengusahaan Logistik Berbasis Rel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang yang dilaksanakan di Batang, Jawa Tengah, Selasa (21/04).

“Pembangunan Dry Port KITB merupakan langkah nyata untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang, memperkuat daya saing produk Indonesia, sekaligus menjadikan Batang sebagai simpul logistik penting di Jawa Tengah,” ungkap Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian Ali Murtopo Simbolon.

Dalam kesempatan tersebut, Ali menyampaikan arahan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengenai percepatan pembangunan Dry Port KITB. Airlangga menegaskan bahwa dry port akan menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan efisiensi transportasi logistik nasional.

Kehadiran infrastruktur ini diharapkan mampu menekan biaya distribusi sekaligus mempercepat arus barang dari dan menuju kawasan industri. Infrastruktur ini dapat menjadi katalisator sistem logistik nasional yang modern, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus membuka peluang pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada tahun 2029 sesuai RPJMN 2025–2029.

Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen pada 2025, bahkan meningkat menjadi 5,39 persen pada Kuartal IV. PDB per kapita mencapai Rp83,75 juta atau setara USD5.082. Investasi juga menunjukkan tren positif dengan realisasi Rp1.931,2 triliun, naik 12,7 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sektor transportasi dan pergudangan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan, dengan capaian 8,78 persen pada Kuartal IV 2025 dan kontribusi lebih dari 6 persen terhadap PDB.

“Efisiensi sektor ini berimbas langsung pada kelancaran distribusi barang dan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global,” ujar Deputi Ali.

Dry Port KITB diproyeksikan mampu menangkap potensi hingga 300.000 TEUs dari total 4 juta TEUs yang melintas di koridor Jawa Tengah. Untuk mewujudkannya, diperlukan investasi awal sekitar Rp2,4 triliun yang mencakup pembangunan container yard, infrastruktur rel, serta fasilitas pendukung lainnya.

Selain itu, KEK Batang ditargetkan menjaring investasi hingga Rp60 triliun dalam 4–5 tahun ke depan. “Dry port ini akan menjadi jantung layanan logistik terintegrasi bagi puluhan pabrik dan industri baru yang akan berdiri di kawasan ini,” pungkas Deputi Ali.