EmitenNews.com - Kasus infeksi virus Corona (Covid-19) varian Omicron di Indonesia terus meninggi. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengonfirmasi kasus varian baru virus Corona yang ditemukan pertama kali di Afrika Selatan, November 2022 itu, telah melampaui saat puncak varian Delta sebelumnya.


Bagusnya karena tingkat keterisian rumah sakit atau bed occupancy ratio (BOR) masih rendah. Keadaan ini berbanding terbalik saat varian Delta melonjak di Tanah Air pada Juli 2021. Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan pasien yang dirawat di rumah sakit terkendali secara nasional. Saat ini angka pasien yang dirawat sebesar 33 persen. Sedangkan tempat tidur di rumah sakit terus ditambah dari 88.485 menjadi 91.018.


"Sejauh ini tempat tidur isolasi dan ICU di rumah sakit untuk pasien masih memadai. Belum ada daerah dengan tempat tidur dan perawatan intensifnya di angka 60 persen di Indonesia," ujar Siti Nadia Tarmizi, Rabu (16/2/2022).


Di DKI Jakarta, kata Nadia, dari 15.313 tempat tidur isolasi yang disediakan baru terisi 54,9 persen. Begitu juga dengan tempat tidur ICU yang tersedia 921, baru terisi 44,1 persen. Berbeda halnya dengan kondisi varian Delta pertengahan tahun lalu itu. Ketika itu, DKI Jakarta merawat pasien sebanyak 18.824.


Siti Nadia Tarmizi kembali mengingatkan pasien tanpa gejala dan gejala ringan tak perlu dirujuk ke rumah sakit. Pasien tersebut bisa melakukan isolasi mandiri atau isolasi terpusat. Kebijakan ini diambil demi menyelamatkan pasien yang bergejala berat hingga kritis. Mereka, yang memiliki gejala sedang, berat, kritis, dan  komorbid, lebih membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.


Per Minggu (13/2/2022), dari 20.920 pasien di rumah sakit, 4.037 di antaranya orang tanpa gejala (OTG) dan 9.665 bergejala ringan. Itu berarti, 65,49 persen dari pasien seharusnya bisa isolasi mandiri atau isolasi terpusat ketimbang harus dirujuk ke rumah sakit.


"Layanan telemedisin dan pengantaran obat bagi pasien isoman sudah jauh lebih baik dan lebih siap melayani pasien sejak kita melakukan percepatan pelayanan 29 Januari 2022," urai Siti Nadia Tarmizi.


Sementara itu dari 130.346 pasien yang menghubungi layanan telemedisin, 97 persen sudah berkonsultasi jarak jauh dengan dokter atau tenaga kesehatan dan menerima resep elektronik. Lalu 85 persen di antaranya sudah menerima paket obat gratis dari Kemenkes di hari yang sama atau H+1. Sisanya H+2 sebanyak 14 persen, dan H+3 sebanyak satu persen.


Kemenkes terus memperbaiki kinerja untuk meningkatkan pengiriman obat hingga maksimal pasien menerima obat H+1. Kendati demikian, menurut Siti Nadia Tarmizi, masih sedikit pasien isolasi mandiri yang memanfaatkan layanan telemedisin gratis. Sejak 17 Januari hingga 13 Februari 2022, hanya 38 persen pasien yang memanfaatkan layanan telemedisin dari total kasus konfirmasi 346,930. ***