EmitenNews.com - Lovina Beach Brewery (STRK) menyiapkan strategi ekspansi global sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan kinerja pada 2026. Perusahaan mematok peningkatan pendapatan, dan laba bersih dibanding tahun 2025, dengan kontribusi utama diharapkan berasal dari pasar ekspor.

Strategi tersebut ditempuh seiring dengan tantangan masih dihadapi pasar domestik, terutama daya beli, dan perlambatan konsumsi. Manajemen menilai pasar internasional menawarkan ruang pertumbuhan lebih besar, khususnya untuk produk minuman siap saji, dan premium.

Direktur Utama Lovina Beach Brewery, Bona Budhisurya, menyampaikan target pertumbuhan tersebut merupakan proyeksi minimal yang ingin dicapai perusahaan. “Fokus kami memperluas kontribusi ekspor. Pasar internasional memberikan peluang lebih luas dibandingkan pasar lokal saat ini,” ujarnya usai peluncuran produk di Bali.

Tiga produk yang diperkenalkan untuk mendukung strategi tersebut yaitu COCO BALI segmen ready to drink, CLARISSA, dan LIBARRON segmen minuman beralkohol premium. Ketiganya dikembangkan dengan mempertimbangkan preferensi pasar internasional, khususnya Jepang dan China, serta tengah dijajaki untuk masuk Eropa dan Amerika Serikat.

Menurut Bona, kondisi pasar domestik masih lemah menjadi salah satu pertimbangan utama perusahaan untuk mempercepat ekspansi ke luar negeri. “Ketika pasar lokal melambat, perusahaan perlu mencari sumber pertumbuhan lain. Pasar ekspor menjadi salah satu opsi yang realistis,” katanya.

Sebagai langkah awal, perseroan telah menandatangani Letter of Intent dengan Naoyoshi Co., Ltd., perusahaan logistik dan distribusi di Jepang, untuk mendukung pemasaran COCO BALI RTD, dan produk spirit lainnya. Jepang dinilai sebagai pasar potensial, terutama untuk kategori RTD dengan pertumbuhan relatif stabil di kawasan Asia Pasifik. 

Bona menyebutkan pangsa pasar kecil dapat berdampak signifikan terhadap kebutuhan produksi. Saat ini, fasilitas produksi perseroan di Singaraja memiliki kapasitas sekitar 3.000 botol per jam. Ke depan, kapasitas tersebut direncanakan meningkat secara bertahap hingga mencapai 20 ribu botol per jam.

Dalam jangka pendek, perseroan memilih memaksimalkan pemanfaatan tenaga kerja lokal dibandingkan investasi besar pada otomatisasi.“Pendekatan ini memungkinkan kami meningkatkan kapasitas sambil tetap melibatkan tenaga kerja lokal,” ujar Bona.

COCO BALI disiapkan sebagai produk utama segmen RTD. Minuman ini menggunakan coconut kopyor dengan varian sparkling agave, dan golden salak. Bahan baku utama diperoleh dari perkebunan agave di Nusa Penida, Bali. Bona menilai tren global menunjukkan peningkatan minat terhadap minuman dengan kadar gula dan alkohol yang lebih rendah, terutama di kalangan konsumen muda.

CLARISSA dan LIBARRON ditujukan untuk pasar premium di wilayah seperti Amerika, Eropa, dan Meksiko, yang dikenal memiliki minat terhadap produk craft dengan karakter dan asal-usul yang jelas. Pada tahap awal, perseroan memproyeksi sekitar 60 persen pendapatan berasal ekspor, dan 40 persen pasar domestik.

Komposisi itu, berpotensi berubah jika kontrak dari pasar internasional mulai terealisasi. Selain itu, Perseroan juga tengah mengembangkan produk spirit berbasis agave dari bahan baku Bali saat ini masih dalam tahap penjajakan pasar. Sepanjang 2024, Lovina mencatat penjualan Rp29,8 miliar. Perseroan berharap strategi ekspansi global dapat menjadi salah satu pendorong perbaikan kinerja beberapa tahun ke depan. (*)