EmitenNews.com - Kawasan industri yang selama ini identik dengan deretan pabrik kini mulai dipoles menjadi destinasi eco-industrial tourism berkaitan dengan wisata edukasi bagi masyarakat. PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) mendeklarasikan kawasan industri Jababeka di Cikarang sebagai kota wisata industri pertama di Indonesia.

Eco-industrial tourism tersebut ialah sebuah konsep yang menggabungkan aktivitas industri manufaktur dengan wisata edukasi dalam satu ekosistem kawasan.

Presiden Director PT Grahabuana Cikarang, Ivonne Anggraini dalam konferensi pers di Menara Batavia, Jakarta pada Jumat (6/3/2026) mengatakan bahwa kawasan tersebut memiliki potensi besar karena tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi, tetapi juga hunian hingga fasilitas rekreasi.

“Karena pada dasarnya di Cikarang itu memiliki lahan 5.600 hektare dan itu merupakan kawasan industri Jababeka. Tapi di dalam kawasan kita itu semua terintegrasi bukan cuma sebagai industri, sebagai manufacturing, tapi juga sebagai tempat hunian, juga sebagai kota wisata,” ujar Ivonne.

Ia menjelaskan kawasan tersebut saat ini dihuni lebih dari 2.000 pabrik lokal maupun multinasional dengan sekitar 1,2 juta orang tinggal di Cikarang. Selain itu, kawasan ini juga menjadi tempat bekerja bagi sekitar 10.000 tenaga kerja asing dari berbagai negara seperti Jepang, Korea, China, Singapura, Malaysia, hingga Eropa.

“Karena di sini banyak tenant-tenant kita maupun penghuni di kawasan. Sudah ada 2.000 pabrik, baik lokal maupun multinasional. Terus ada 1,2 juta orang yang tinggal di Cikarang,” kata Ivonne.

Konsep wisata industri tersebut dirancang agar kawasan industri tidak hanya menjadi pusat manufaktur, tetapi juga ruang pembelajaran bagi masyarakat dan pelajar untuk melihat langsung proses produksi berbagai sektor industri. Ke depan, pengelola juga berencana membangun Jababeka Factory Outlet yang menampilkan produk sekaligus proses produksi dari pabrik-pabrik yang beroperasi di kawasan tersebut.

Selain itu, Jababeka juga menyiapkan agenda festival wisata industri tahunan yang melibatkan tenant dari berbagai negara untuk menampilkan budaya dan inovasi industri masing-masing.

Di sisi bisnis properti, Jababeka Residence juga mencatatkan kinerja penjualan yang solid sepanjang 2025. Ivonne menyebut marketing sales mencapai Rp1,3 triliun, atau berkontribusi sekitar 36,11 persen terhadap total marketing sales KIJA yang mencapai Rp3,6 triliun.

“Saya bersyukur ya di tahun 2025, kita itu bagus sekali. Penjualan properti itu tinggi sekali,” ujarnya.

Untuk tahun 2026, KIJA menargetkan Prapenjualan atau marketing sales Rp3,75 triliun, terutama didorong oleh permintaan lahan industri di Kendal dan Cikarang. Sekitar Rp1,25 triliun ditargetkan berasal dari Cikarang, sedangkan Rp2,5 triliun sisanya dari kawasan industri Kendal.

Ivonne menambahkan optimisme tersebut juga dipicu minat investor asing yang mulai kembali melirik Indonesia di tengah ketidakpastian global.

“Untuk tahun sekarang (2026) kita juga optimis akan lebih baik lagi dari 2025, melihat daripada investor properti asing yang mulai masuk di Indonesia,” ujarnya.

Meski demikian, perseroan tetap mencermati perkembangan konflik geopolitik global, termasuk ketegangan Iran dan Amerika Serikat, yang berpotensi memengaruhi sentimen investasi.

“Kita juga berharap semoga perang juga tidak memengaruhi,” kata Ivonne.