Kinerja Terapik 5 Penghuni Teratas HSC: MPRO, DCII, BBSI, PGUN, POLU
:
0
Lima emiten anggota HSC teratas memiliki kinerja laba bersih semester yang bervariasi. Foto: Emitennews
EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merilis emiten dengan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi alias High Shareholding Concentration (HSC). Per tanggal 5 Agustus 2026, terdapat 54 saham yang masuk dalam daftar HSC.
Dari 54 emiten tersebut, lima emiten dengan rekor HSC tertinggi digenggam oleh PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) 99,99%, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) 99,96%, lalu diikuti oleh PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) 99,95% , PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) 99,95%, dan posisi kelima diduduki PT Golden Flower Tbk (POLU) 99,94%.
BEI setiap kali merilis daftar HSC selalu menegaskan bahwa emiten yang masuk dalam daftar emiten yang dikuasai segilintir elit tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal
Bagaimana kinerja lima emiten anggota HSC teratas di semester pertama 2026? Ternyata bervariasi. Satu emiten rugi, dua emiten dengan laba yang tumbuh negatif, dan dua emiten lainnya mencatat laba bersih kinclong atau tumbuh positif.
Berikut kinerja kelima emiten dengan status HSC tertinggi yang diolah Emitennews.com, Ahad (9/8/2026).
1.PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO)
Enam bulan pertama tahun 2026, bukan laba bersih yang bisa diraih oleh MPRO. Namun justru rugi bersih yang digenggam sebesar Rp16,2 miliar. Angka itu menujukan penyusutan kerugian sebesar 21,36% dibandingkan semester pertama 2025.
Kinerja bottom-line MPRO sejatinya menunjukkan perbaikan operasional secara tahunan. Kerugian bersih perusahaan berhasil ditekan menjadi Rp16,2 miliar dari rugi bersih periode Semester I-2025 yang tercatat sebesar Rp20,6 miliar. Hal ini sejalan dengan kenaikan pendapatan usaha yang melesat 52,4% menjadi Rp3,2 miliar.
2. PT DCI Indonesia Tbk (DCII)
Laba Bersih DCII sesuai dengan angka rilis konsolidasi kumulatif di kisaran Rp 680 miliar – Rp 720 miliar, pertumbuhan tren laba bersih berjalan naik 18,7% disokong oleh pendapatan yang meningkat.
Related News
Adu Kinerja Emiten Farmasi Paruh 1 2026: KAEF, SIDO, KLBF dan DVLA
Laba DVLA Terpangkas 22 Persen di Semester I 2026
Penjualan Susut, Laba Bersih SIDO Turun 44 Persen di Semester I 2026
Penjualan Kalbe Farma (KLBF) Tembus Rp19,4T, Laba Turun Tipis
Harga Terus Melonjak, SRTG Alihkan Jutaan Saham Treasury 18 Agustus
Akhiri Episode Negatif, PZZA Tabulasi Laba Rp8,4 Miliar





