EmitenNews.com - Kinerja PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), atau BRI diperkirakan terdongkrak seiring dengan masuknya perseroan ke captive market baru yakni menjangkau populasi unbanked dan memperkuat ekosistem ultra mikro. Dalam riset terbaru, Analis Trimegah Sekuritas Adi Prabowo menyatakan bahwa aksi korporasi holding ultra mikro membawa pertumbuhan baru pada BRI.


Dalam keterangannya yang dikutip Jumat (10/2/2023), Adi Prabowo merekomendasikan buy untuk emiten bank bersandi BBRI tersebut dengan target harga Rp6.200 per saham. Hal ini sesuai strategi yang pernah diungkapkan Direktur Utama BRI Sunarso, yakni perseroan kini memiliki sumber pertumbuhan baru (new source of growth) yang berkelanjutan pasca terbentuknya holding ultra mikro.


“Dalam hal membentuk sumber pertumbuhan baru, pembentukan Holding UMi merupakan wujud komitmen BRI untuk go smaller. Jadi karena kami punya strategi pertumbuhan ke atas mengikuti naik kelas nasabah yang ada, ke bawah kami cari sumber pertumbuhan baru atau nasabah baru, maka go smaller. Dari situlah kami membuat konsep membentuk holding ultramikro bersama PNM dan Pegadaian,” jelasnya.


Lebih dari setahun sudah holding UMi terbentuk, perlahan Pegadaian dan PNM telah memberikan kontribusi positif terhadap kinerja BRI Group secara keseluruhan. Meski pun skalanya kecil dibandingkan dengan BBRI, tetapi ada nilai lebih karena bank memiliki basis pelanggan baru, memperluas penawaran layanan, ekosistem ultra mikro, pertumbuhan bisnis, dan kontribusi investasi dari Pegadaian.


Pegadaian kini telah berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Perusahaan pelat merah yang memilki sejarah panjang dalam bisnis pergadaian telah berekspansi ke bisnis lain, seperti kredit multiguna, pembiayaan kendaraan, emas, jasa penilaian dan sertifikasi, remitansi, serta safe deposit box.


Pegadaian juga terbilang agresif bertransformasi digital secara signifikan, ditandai peluncuran Pegadaian Digital pada 2019. Platform tersebut telah mengumpulkan 7 juta pengguna terdaftar dari total 21,86 juta pelanggan. Sebanyak 4,7 juta akun di Pegadaian Digital merupakan pengguna aktif.


Masuknya Pegadaian ke BBRI memberikan layanan lengkap kepada nasabah ultra-mikro hingga high net worth individual (HNWI). Bermodal 4.085 kantor cabang, Pegadaian akan membuat BRI menyentuh populasi unbanked secara lebih luas.


"Selain sinergi, dalam jangka panjang kami melihat akuisisi BBRI dan Pegadaian sebagai hal yang saling menguntungkan," tambah Adi Prabowo.


Dari sisi kinerja, Pegadaian akan mendorong kinerja bottom line BBRI. Tercatat sepanjang semester I/2022, Pegadaian berkontribusi 7,1% terhadap laba bersih perseroan (BBRI).


Sementara itu, anggota Holding UMi lainnya yakni PNM juga memberikan dampak positif terhadap kinerja BRI Group secara keseluruhan. Hingga akhir Kuartal III 2022, PNM tercatat memiliki lebih dari 13 juta nasabah aktif perempuan prasejahtera melalui PNM Mekaar.

 

Seperti diketahui, Pemerintah resmi mengalihkan saham yang dimiliki Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) kepada BRI pada 13 September 2021. Hal ini seiring dengan pembentukan holding ultra mikro di mana BRI sebagai induknya.


Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir kala itu mengatakan pembentukan holding tersebut akan memperkuat akses pembiayaan kepada UMKM. Hal itu sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan porsi pembiayaan hingga 30% di 2024 kepada sektor UMKM termasuk ultra mikro di dalamnya. ***