Konflik Timteng Bayangi Pasar, IHSG Uji Level 6.900
Orang-orang melintasi lantai perdagangan di BEI.
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak terbatas dan berpotensi kembali menguji level 6.900-7.000 pekan ini. Eskalasi global, khususnya konflik yang terjadi di Timur Tengah masih membayangi pergerakan pasar.
Dalam riset Phintraco Sekuritas yang dirilis 6 April 2026, disebutkan IHSG berada pada area resitance di level 7.100, pivot 7.000 dan support 6.900.
Bursa Wall Street pun ditutup mixed pada perdagangan Kamis (2/4) dengan pergerakan fluktuatif. Kondisi ini dipicu meningkatnya tensi geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan konflik dengan Iran masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.
Bahkan, intensitas perang semakin meningkat ketika dilaporkan Iran menembak jatuh dua pesawat tempur AS dan adanya serangan rudal di dekat fasilitas PLTN Iran. Di sisi lain, Iran juga ditengarai bekerja sama dengan Oman untuk memantau aktivitas kapal di Selat Hormuz.
Sementara itu, tenaga kerja AS menunjukkan perbaikan dengan data nonfarm payrolls sebesar 178 ribu di Maret 2026, terbanyak sejak Desember 2024, setelah mengalami penurunan sebesar 133 ribu pada Februari. Tingkat pengangguran juga turun menjadi 4,3 persen.
Ke depan, pasar akan terus mencermati perkembangnan konflik, khususnya terkait potensi dibuka kembali Selat Hormuz. Trump bahkan memperingatkan Iran agar membuka jalur tersebut dengan tenggat waktu hingga 6 April 2026.
Selain itu, investor juga menanti sejumlah rilis data ekonomi AS seperti FOMC minutes, inflasi, ISM service PMI, pembacaan awal Mich. Sentiment, dan inflasi PCE.
Sedangkan dari domestik, pasar akan dibayangi rilis data cadangan devisa pada 8 April, serta indeks keyakinan konsumen dan penjualan otomotif pada 10 April mendatang.
Phintraco Sekuritas menilai, jika konflik berlarut-larut, harga minyak mentah bakal berada di level tertinggi untuk waktu yang lama. Jika terjadi, hal ini dikhawatirkan menekan fiskal Indonesia melalui potensi pelebaran defisit APBN, terutama jika pemerintah menambah subsidi energi.
Risiko itu juga dapat memicu capital outflow dan berlanjutnya depresiasi rupiah yang akhirnya kembali menekan pergerakan IHSG.
Sejumlah sahan yang direkomendasikan untuk dicermati pekan ini di antaranya MAIN, MNCN, TOWR, MIDI, NISP, dan BNGA. (*)
Related News
Astra Siap Bangun 1.000 Unit Rusun Di Atas Lahan BUMN
IHSG Awal Pekan Melorot 1,25 Persen, DSSA Hingga BREN Terseok
Kemnaker Buka Sertifikasi Batch Kedua, Siapkan 2.100 Ahli K3
Masuk HSC, BREN, dan DSSA Tekan Laju IHSG
IHSG Rawan Koreksi, Serok Saham WIFI, IMPC, INDY, dan VKTR
Rupiah, Minyak, dan HSC Sudutkan IHSG, Ini Strategi IPOT





