EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk meninggalkan level psikologis 6.000 pada pembukaan perdagangan Jumat (22/5).

Berdasarkan data RTI Business pukul 09.02 WIB, IHSG anjlok 117,688 poin atau 1,93 persen ke level 5.977,252. IHSG sempat menyentuh level terendah 5.966,860 dengan volume transaksi 1,990 miliar saham dan nilai transaksi 938,611 miliar rupiah. 

Sebelumnya, Kamis (21/5), IHSG ditutup anjlok 223,56 poin atau 3,54 persen ke level 6.094,94.

MNC Sekuritas memproyeksikan koreksi lanjutan ke level 5.899-5.999, atau turun 1,57% hingga 3,21% dari penutupan kemarin.

“Area koreksi yang dapat kami perkirakan berikutnya akan menguji ke 5.899-5.999,” tulis MNC Sekuritas, Jumat (22/5).

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta, Jumat (22/5) turut mengomentari bahwa, “Berdasarkan analisa teknikal, IHSG sudah dalam kondisi extremely oversold dan menunjukkan positive divergence berdasarkan indikator RSI.”

Bertepatan dengan 9 hari koreksi beruntun IHSG menurut Nafan, setelah kejatuhan IHSG, berbagai saham berada di level valuasi yang sangat murah atau deeply undervalued, sehingga kondisi ini berpotensi memicu mminat beli selektif dari investor institusi domestik, baik dana pensiun dan asuransi, untuk melakukan akumulasi bertahap atau bottom fishing dengan memanfaatkan harga diskon pasca panic selling.

Dari global, dinamika geopolitik AS-Iran masih menjadi sentimen utama. Para pelaku pasar mencermati laporan draf akhir perjanjian perdamaian AS-Iran telah tercapai dengan bantuan mediator Pakistan.

“Adapun perjanjian tersebut mencakup gencatan senjata segera di semua front, jaminan kebebasan navigasi di Teluk dan Selat Hormuz, dan dimulainya negosiasi mengenai isu-isu yang belum terselesaikan dalam waktu satu minggu,” tambah Nafan.

Dari domestik, pelaku pasar akan mencermati rilis transaksi berjalan kuartal I 2026 yang diprediksi hanya defisit 0,8 miliar dolar AS.