EmitenNews.com — Meski di tengah pengaruh tekanan politik dan dinamika pasar,PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) kemarin, Senin (30/5) mengumumkan laba bersih yang berhasil diraih untuk tahun keuangan yang berakhir 31 Maret 2022 sebesar RM2,04 miliar dari RM2,39 miliar pada kuartal pertama 2021.


Laba sebelum pajak (PBT) turun menjadi RM2,97 miliar dari RM3,17 miliar tahun lalu. Kondisi pasar yang masih stagnan turut berdampak kepada pendapatan BNII, meskipun perekonomian regional telah dibuka kembali dan telah mendorong pertumbuhan kredit serta penurunan biaya impairment.


Pendapatan fee-based bersih tumbuh 5,3% pada kuartal pertama 2022 menjadi RM4,89 miliar didukung kenaikan Net Interest Margin (NIM) sebesar 3 basis poin secara tahunan (Y-o-Y) karena penurunan biaya bunga dan kredit yang tumbuh sebesar 5,2%. Namun, hal ini diimbangi dengan penurunan pendapatan fee-based bersih sebesar 28,3% menjadi RM1,56 miliar di sebagian besar segmen bisnis karena dinamika pasar, yang mengakibatkan pendapatan operasional bersih turun 5,4% menjadi RM6,45 miliar dari RM6,83 miliar sebelumnya.


Didukung aktivitas ekonomi regional yang meningkat, biaya overhead tumbuh 4% Y-o-Y khususnya terkait biaya pendapatan/revenue yang lebih tinggi. Rasio Cost to Income (CIR) berada pada 45,5% atau masih berada di kisaran yang ditetapkan Grup yakni diantara 45% - 46% di sepanjang 2022. Sementara, tingkat kerugian kredit bermasalah (Gross Impairment) turun sebesar 31,3% menjadi RM597,1 juta dari RM868,5 juta tahun lalu.


Menurut Chairman and Group President & CEO Maybank Chairman, Tan Sri Dato' Sri Zamzamzairani Mohd Isa, kondisi perekonomian di awal 2022 tampak menjanjikan dengan dimulainya kembali aktivitas ekonomi yang aktif serta pembukaan kembali lalu lintas perdagangan internasional secara bertahap. Namun, dengan meningkatnya tekanan politik yang berakibat pada dinamika pasar serta tekanan inflasi masih mampu meredam sentimen ini.


"Di tengah dinamika pasar, kami tetap berhati-hati dalam menjalankan prospek bisnis di sepanjang tahun, sejalan dengan strategi berwawasan ke depan yang telah kami tetapkan dalam strategi M25 Plan. Namun demikian, kami akan terus mengupayakan pertumbuhan bisnis baru di masa pemulihan ini, dan di saat yang sama, senantiasa mendukung keberkelanjutan nasabah dalam jangka panjang,'' jelasnya dalam keterangan resmi seperti diterima redaksi Ipotnews , Senin (30/5).


Pada kesempatan yang sama, Tan Sri juga turut menyambut Group President & CEO Maybank yang baru, Dato' Khairussaleh Ramli, yang telah bergabung sejak 1 Mei 2022. "Dengan pengalaman dan wawasan Dato' Khairussaleh di bidang jasa keuangan dan pasar modal selama 30 tahun, kami berharap dapat bekerja sama di bawah kepemimpinan beliau yang berpijak pada strategi M25, khususnya di bidang digitalisasi, sebagai area pengembangan untuk keberlanjutan Maybank,'' papar Tan Sri.


Sementara, Dato' Khairussaleh mengatakan bahwa tren positif kinerja keuangan Grup terlihat jelas di beberapa pasar utama pada kuartal pertama 2022, meskipun masih terdapat faktor global yang mempengaruhi kelangsungan bisnis.


"Meskipun masih terdapat hal yang dapat mempengaruhi prospek bisnis di sepanjang tahun ini, kami akan fokus dalam memanfaatkan peluang pertumbuhan di seluruh segmen portofolio di pasar utama kami dengan terus mempertahankan posisi modal dan likuiditas yang kuat guna memfasilitasi peluang pertumbuhan tersebut. Di saat yang sama, kami memastikan agar manajemen risiko Grup tetap berjalan, termasuk dalam hal pengelolaan biaya dan produktivitas bisnis kami. Selain itu, kami berupaya untuk dapat mempercepat peluncuran solusi-solusi baru melalui platform digital untuk melengkapi kebutuhan nasabah sambil meningkatkan penetrasi pasar di tingkat regional,'' jelasnya.


Sebagai informasi kredit (gross) BNII naik menjadi RM562,0 miliar pada kuartal pertama 2022 dari RM534,4 miliar tahun lalu, dipimpin operasional Maybank Singapura yang tumbuh 7,2% dan Maybank Malaysia dengan pertumbuhan sebesar 4,9%. Sementara, Maybank Indonesia, mencatat penurunan sebesar 2,0%, terutama disebabkan strategi yang sedang berjalan untuk menyeimbangkan kembali portofolio kredit non-ritel di segmen Community Financial Services, dalam rangka memitigasi risiko.


Grup terus menempuh langkah untuk mempertahankan likuiditas yang sehat dan memperkuat basis pendanaan berbiaya rendah, di mana langkah ini telah berkontribusi pada peningkatan simpanan nasabah sebesar 5,5% Y-o-Y, didukung oleh simpanan Current Account Savings Account (CASA) di seluruh jaringan pasar Grup. Rasio CASA Grup terhadap total simpanan nasabah meningkat menjadi 46,2% pada Maret 2022 dari 44,5% tahun lalu.


Untuk Likuiditas dan Kekuatan Permodalan, BNII tetap fokus untuk mempertahankan posisi likuiditas dan modal, sejalan dengan penerapan prinsip kehati-hatian Maybank guna memitigasi potensi dinamika dalam iklim bisnis. Rasio CET1 Grup menguat menjadi 14,95% pada kuartal pertama 2022, sementara, total rasio modal berada pada 18,37%, menjadikan Grup sebagai salah satu bank di regional dengan kapitalisasi terbaik. Rasio Kewajiban Pemenuhan Kecukupan Likuiditas/Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan rasio Net Stable Funding Ratio ( NSFR ) Grup berada pada posisi yang sehat, yaitu 143,2% (LCR) dan 118,6% ( NSFR ) pada kuartal pertama 2022, jauh berada di atas ketentuan regulator sebesar 100%.


Sementara kualitas aset BNII membaik secara signifikan dengan rasio Gross Impaired Loans (GIL) menjadi 1,95% pada Maret 2022 dari 2,20% pada Maret 2021. Namun demikian, Grup tetap waspada dalam memantau kinerja portofolio kreditnya dengan mengidentifikasi potensi penurunan kinerja kredit sejak tahap awal sehingga Grup dapat mengambil langkah secara proaktif untuk membantu nasabah dalam mengelola komitmennya.


Pencadangan Kerugian Penurunan Nilai (loan loss provisions) turun hampir separuh menjadi RM443,41 juta pada kuartal pertama 2022 dari tahun sebelumnya, didukung utamanya, oleh biaya management overlay yang lebih rendah oleh sebab prospek ekonomi yang membaik. Cakupan Kerugian Penurunan Nilai (Loan loss coverage) tetap pada tingkat yang sehat sebesar 106,4% didukung oleh rendahnya nilai pencadangan untuk kredit baru yang bermasalah (impaired loan).