Lagi, TPIA Klarifikasi Soal Ini
Suasana Selat Hormuz di bawah kendali Iran. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Penutupan Selat Hormuz berefek berantai. Dampak paling kentara yaitu potensi krisis energi global. Hanya menunggu waktu. Pasokan energi dalam negeri juga bakal ikut tersendat. Maklum, tidak sedikit perusahaan nasional yang mengangkut bahan baku melalui jalur strategis tersebut.
Salah satu perusahaan terkena dampak yaitu Chandra Asri (TPIA). Tanpa tedeng aling-aling Chandra Asri mengumumkan kondisi kahar imbas konflik Timur Tengah (Timteng) tersebut.
Emiten besutan Prajogo Pangestu itu mengklaim dan sekaligus klarifikasi kalau penyampaian keadaan kahar kepada pelanggan merupakan langkah preventif yang secara administratif harus dilakukan sesuai ketentuan kontraktual. Langkah itu, diambil sebagai bentuk transparansi, pencegahan timbulnya kerugian besar kepada mitra usaha, dan pemangku kepentingan.
”Pemberitahuan force majeure tidak serta-merta mencerminkan penghentian operasional perseroan, melainkan bagian dari mitigasi risiko atas dampak situasi eksternal makin berkembang,” beber Erri Dewi Riani, General Manager of Legal & Corporate Secretary Chandra Asri Pacific.
Saat ini, kegiatan operasional perseroan masih berjalan sebagaimana mestinya alias normal. Namun demikian, perseroan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat, dan melakukan evaluasi berkala terhadap potensi implikasi yang dapat menimbulkan gangguan operasional perseroan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Selain itu, saat ini perseroan menjalankan penyesuaian tingkat operasional (run rates) secara selektif sesuai kondisi pasokan, dan kebutuhan produksi. Langkah itu, dilakukan untuk menjaga kesinambungan usaha, dan stabilitas pasokan terhadap pelanggan. Kemudian, perseroan juga memiliki kerangka manajemen risiko, dan sistem perencanaan operasional dirancang untuk merespons dinamika pasar secara adaptif.
Upaya tersebut mencakup diversifikasi sumber bahan baku, pengelolaan inventori secara prudent, dan penguatan koordinasi dalam rantai pasok guna menjaga fleksibilitas operasional. ”Perseroan akan selalu melakukan upaya terbaik demi menjaga stabilitas operasional, dan kinerja perseroan,” tegas Erri.
Sekadar informasi, eskalasi konflik Timteng makin mengkhawatirkan. Perseteruan itu, dipicu serangan brutal Amerika Serikat (AS)-Israel yang berujung kematian pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamainei. Iran melakukan serangan balik dengan membombardir Kota Tel Aviv, Israel, dan merudal pangkalan AS di sejumlah negara Teluk. (*)
Related News
Masuk Jalur FCA, TRIM Terus Buang Saham HILL
Kebut Kapasitas 3 GW, PGEO Bereskan Pemipaan Sumur Produksi Panas Bumi
Bebas Suspensi, Kopkar Makmur Lego Ratusan Juta Saham WMPP
Drop 209 Persen, Grup Lippo (MLPL) Boncos Rp156,43 Miliar
Lepas MGLV, Trijaya Wisesa Raup Rp137,99 Miliar
Harga Minyak Dunia Naik, Elnusa Bidik Peluang Ekspansi di Hulu Migas





