EmitenNews.com - Harga emas dunia bergerak tertahan di kisaran USD4.100 per ons pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Pergerakan ini terjadi setelah harga logam mulia tersebut mengalami penurunan tajam hingga 4 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.

Pelemahan harga emas tertekan oleh lonjakan harga minyak mentah dunia serta ketidakpastian negosiasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini meningkatkan tekanan inflasi global yang memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Sentral AS (The Fed).

Penguatan harga minyak kembali terjadi setelah pejabat Iran meragukan tercapainya kesepakatan pembukaan Selat Hormuz sebelum pemilihan paruh waktu AS pada November, menyusul penolakan Presiden Donald Trump terhadap proposal terbaru Teheran. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS ke level tertinggi baru turut memberatkan aset non-imbal hasil seperti emas, sebagaimana dilaporkan Trading Economics pada Selasa (29/9/2026).

Trading Economics mencatat pasar saat ini memperkirakan sekitar 70 persen kemungkinan kenaikan suku bunga Fed pada Oktober 2026, menyusul langkah awal pengetatan suku bunga bank sentral tersebut pada awal bulan ini.

Fokus perhatian pelaku pasar finansial global saat ini tertuju pada rilis data ekonomi utama AS pekan ini. Data indikator inflasi PCE yang dijadwalkan keluar pada Rabu (30/9/2026) serta laporan tenaga kerja non-pertanian (non-farm payrolls) pada Jumat (2/10/2026) diproyeksikan memberi petunjuk arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

Pergerakan harga emas dunia yang tertahan di level USD4.100 per ons ini menjadi perhatian bagi pasar modal dan komoditas di Indonesia. Fluktuasi harga emas global berpotensi memengaruhi pergerakan harga emas batangan domestik, kinerja saham emiten tambang emas di Bursa Efek Indonesia, serta dinamika nilai tukar rupiah.(*)