MBG Mulai Maret Dikebut; Utamakan Serap Produk Pangan Dalam Negeri
:
0
Program unggulan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai Maret ini akan dikebut dengan mengutamakan produksi pangan dalam negeri
EmitenNews.com - Program unggulan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai Maret ini akan dikebut. Untuk itu, kecukupan ketersediaan pasokan pangan pokok termasuk yang dikonsentrasikan untuk dipersiapkan dengan mengutamakan produksi pangan dalam negeri.
Selepas Rakortas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta pada Senin (3/3/2024), Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi, menyatakan optimismenya bahwa MBG akan menjadi agregator untuk absorpsi hasil panen para petani lokal.
"Tadi Bapak Menko Pangan menyebutkan MBG mulai Maret ini akan diupayakan lari dengan kencang. Apalagi nanti kalau sudah menyentuh 82,9 juta penerima manfaat, bisa butuh beras hingga 4 juta ton. Tapi memang produksi beras kita akan semakin besar, total bisa hampir 14 jutaan ton sampai April ini," kata Arief.
Adapun potensi produksi beras dalam negeri subround I (Januari-April) sebagaimana rilis Badan Pusat Statistik (BPS), di tahun 2025 ini dilaporkan menjadi yang tertinggi dalam 7 tahun terakhir atau sejak Januari-April 2019. Pada caturwulan 2025 ini, BPS memproyeksikan total produksi beras dapat menyentuh angka 13,95 juta ton.
Sebagai komparasi, Januari-April 2024 berada di 11,07 juta ton. Lalu Januari-April 2023 di 12,98 juta ton. Selanjutnya Januari-April 2022 di 13,71 juta ton. Sementara di Januari-April 2021 di 13,58 juta ton dan di Januari-April 2020 di 11,52 juta ton. Terakhir, Januari-April 2019 berada di angka 13,63 juta ton.
Untuk perkiraan kebutuhan konsumsi beras bulanan, berdasarkan proyeksi neraca beras yang disusun NFA, pada Ramadan atau Maret ini akan meningkat sekitar 15,47 persen atau menjadi 2,738 juta ton. Di Februari 2025, kebutuhan konsumsi beras berkisar di 2,371 juta ton.
"Kalau nanti produksi beras kita semakin besar April ini, artinya kita harus siap-siap. Musim hujan seperti sekarang, kelebihannya produksi akan banyak. Jadi challenge-nya adalah kecepatan kita mengeringkan gabah dari kadar air yang mungkin sampai dengan 30 persen, kita harus turunkan gabahnya ke sampai dengan 14 persen. Nah makanya diperlukan banyak dryer," ujarnya.
"Hari ini harus pakai teknologi, harus diperbanyak dryer. Jangan ambil risiko, karena nanti produksinya banyak, terus kemudian kualitas gabahnya malah turun. Nanti produktivitasnya jadi rendah karena rendemennya rendah. Padahal ada program MBG dan Bulog sekarang sudah jadi standby buyer. Jadi saat ini pemerintah itu sudah siapkan solusi di hilir perberasan," beber Arief.
Kepala NFA Arief Prasetyo Adi juga menyoroti harga daging ruminansia yang disebutnya perlu diperhatikan kembali. Menurutnya, akibat kasus Penyakit Mulut dan Kulit (PMK) menyebabkan harga daging di pasaran menurun.
"Harga daging harusnya sekitar Rp 120-130 ribu, batas atasnya kan Rp 140 ribu. Kemarin itu ada penurunan harga daging karena case PMK. Jadi sekarang harga sudah mulai naik lagi. Ini berita baik bagi peternak kita. Semangat kita tentu adalah membangun produksi pangan dari hasil jerih payah sendiri," tukasnya.
Related News
May Day 2026, Begini Kejutan Lain dari Prabowo Untuk Pengemudi Ojol
Pemerintah Batasi Outsourcing Hanya 6 Bidang, di Luar Itu Terlarang
May Day di DPR Senayan, Cek Lima Tuntutan Aksi Massa Buruh GEBRAK
Bunga Kredit Himbara 5 Persen, Demikian Titah Presiden Untuk Rakyat
Aplikator Wajib Manut, Porsi Pendapatan Ojol Minimal 92 Persen!
Progres 59 Persen, Bendungan Bagong PTPP Didorong Rampung Lebih Cepat





