Membaca Pola Kepemilikan Saham MBTO Jelang Era Transparansi Baru
Ilustrasi Saham MBTO (PT Martina Berto Tbk.)
EmitenNews.com - Di tengah fokus pasar pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sedang bergulat dengan aturan free float, sebuah fenomena volatilitas tinggi terjadi pada saham lapis ketiga. Pada perdagangan tanggal 4 Februari 2026, PT Martina Berto Tbk (MBTO) sebagai saham small cap mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 34,51% ke level Rp191 per saham.
Kenaikan yang terjadi saat IHSG bergerak terbatas ini menjadi studi kasus empiris yang relevan. Peristiwa ini mencerminkan dinamika pasar yang memanfaatkan celah informasi dalam regulasi lama, sebuah pola pergerakan harga yang kelak akan lebih transparan ketika aturan pelaporan kepemilikan 1% dan Beneficial Ownership diberlakukan secara penuh oleh regulator.
Anatomi Low Liquidity Price Spike
Secara statistik, kenaikan harga MBTO terlihat menonjol karena memimpin daftar Top Gainers. Namun, bedah data perdagangan harian mengungkap adanya divergensi antara harga dan volume. MBTO tidak tercatat dalam daftar 10 saham dengan volume transaksi tertinggi (Top Stocks by Volume) maupun nilai transaksi terbesar (Top Stocks by Value) pada hari tersebut.
Kondisi di mana harga melonjak tajam tanpa disertai lonjakan volume likuiditas yang setara (low liquidity price spike) mengindikasikan karakteristik saham dengan struktur kepemilikan publik yang terkonsentrasi. Dalam mekanisme pasar, kondisi ini memungkinkan pergerakan harga yang lebih volatil dengan efisiensi modal yang lebih tinggi dibandingkan saham dengan kepemilikan ritel yang menyebar luas.
Indikasi Shareholder Contraction Pra-Kejadian
Hipotesis mengenai konsentrasi kepemilikan tersebut didukung oleh data historis dalam Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per 31 Desember 2025 (rilis 8 Januari 2026). Data menunjukkan terjadinya penurunan jumlah pemegang saham (shareholder contraction) dari 4.312 pihak pada November menjadi 4.234 pihak pada Desember 2025.
Berkurangnya 78 pihak dalam periode satu bulan tersebut mengindikasikan adanya perpindahan kepemilikan dari investor ritel yang tersebar ke pihak dengan kapasitas modal yang lebih besar (smart money). Di bawah regulasi saat ini, identitas pihak penampung saham tersebut tidak terlihat karena porsi kepemilikannya berada di bawah ambang batas pelaporan 5%, sebuah celah informasi yang berpotensi ditutup oleh aturan transparansi 1% di masa depan.
Dinamika Sleeping Float 30 Persen
Secara administratif, MBTO mencatatkan porsi saham Free Float (masyarakat non-warkat yang disesuaikan) sebesar 30,67% atau setara 328 juta lembar. Angka free float ini secara teoretis cukup besar untuk menjaga stabilitas harga. Namun, fakta bahwa harga saham dapat menyentuh batas atas (ARA) dengan cepat mengindikasikan bahwa sebagian dari free float tersebut berpotensi merupakan sleeping float, saham yang tercatat publik namun tidak aktif diperdagangkan secara reguler. Hal ini memunculkan urgensi penerapan aturan Beneficial Ownership agar investor publik dapat memverifikasi tingkat likuiditas riil di pasar, serta membedakan antara saham publik yang benar-benar cair (truly liquid) dengan yang dikuasai oleh akun-akun statis.
Stabilitas Posisi Pengendali
Faktor lain yang turut mempengaruhi dinamika ini adalah posisi statis dari pemegang saham pengendali. Laporan registrasi menunjukkan bahwa PT Marthana Megahayu Inti mempertahankan kepemilikannya sebesar 66,82% tanpa perubahan, demikian pula dengan porsi manajemen kunci.
Data ini menunjukkan bahwa tidak ada aksi korporasi (seperti divestasi atau pembelian kembali) dari pihak pengendali yang memengaruhi suplai di pasar. Dengan demikian, volatilitas harga yang terjadi dapat disimpulkan sebagai murni dinamika supply-demand pada porsi saham publik (<32%), tanpa intervensi langsung dari struktur pengendali perusahaan.
Kesimpulan
Bagi investor, fenomena pergerakan harga MBTO memberikan wawasan penting dalam melakukan due diligence (uji tuntas) sebelum berinvestasi. Kenaikan harga yang signifikan perlu dicermati lebih dalam dengan melihat distribusi kepemilikan dan volume transaksi.
Reformasi bursa yang akan datang, khususnya transparansi data pemegang saham hingga 1 persen, diharapkan dapat menyeimbangkan asimetri informasi ini. Ke depannya, investor akan memiliki akses data yang lebih granular untuk menilai apakah sebuah volatilitas harga didukung oleh partisipasi pasar yang luas atau didorong oleh konsentrasi kepemilikan tertentu.
Baca Juga BREN Lawan Arus, Buyback Rp2 Triliun di Tengah Aturan Free Float
Related News
BREN Lawan Arus, Buyback Rp2 Triliun di Tengah Aturan Free Float
Di Balik Laba Jumbo ARTO, Ada Mesin Panas dan Pertaruhan Likuiditas?
Bukan Bank Bukan Tambang, DCII Mesin Pencetak Laba Rebutan Konglomerat
Mengapa BRMS Anjlok 15 Persen Saat Emas Dunia Bertahan di Level 4.668?
Logika Transparansi dan Efisiensi, BBCA Jadi Bunker saat Krisis Kah?
Di Balik Layar IHSG Terkapar, Asing Justru Borong Saham di Harga Bawah





