Menanti Titah Merger oleh Danantara, WTON Tahan Proyeksi Laba 2026
:
0
Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Beton Tbk, Ignatius Harry menjawab pertanyaan kepada awak media saat doorstop di ruang media Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta pada Rabu (10/6/2026). Foto: EmitenNews/Aji.
EmitenNews.com - PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON) belum menetapkan proyeksi laba tahun 2026 seiring masih menunggunya kejelasan arah terkait program efisiensi dan restrukturisasi (merger) yang tengah digodok oleh Danantara.
Perseroan menilai berbagai kebijakan yang sedang disiapkan berpotensi memengaruhi arah bisnis dan strategi operasional ke depan.
Corporate Secretary WIKA Beton, Ignatius Harry Sumartono dalam pertemuan dengan media, Rabu (10/6/2026) mengatakan hingga saat ini manajemen belum dapat memberikan panduan laba karena masih menunggu kejelasan implementasi kebijakan yang berasal dari pemegang saham.
“Kalau ngomongin sekarang (target dan outlook) laba kayaknya belum pas, karena kita enggak tahu arahnya bakal gimana atas surat dari Danantara itu. Jadi surat Danantara bunyinya efisiensi, jadi kita harus menyesuaikan,” ujar Harry.
Menurut dia, kebijakan tersebut masih dalam tahap pembahasan internal sehingga perseroan memilih bersikap hati-hati sebelum menetapkan target keuangan.
Meski demikian, Sekretaris Baru emiten WTON itu membeberkan kinerja tahun 2025 masih mencatatkan laba positif di tengah tantangan industri konstruksi dan infrastruktur.
Harry menjelaskan hingga saat ini belum ada arahan teknis terkait rencana merger perusahaan BUMN karya yang santer beredar. Perseroan juga mengaku belum menerima petunjuk resmi mengenai peran WIKA Beton selanjutnya dalam proses konsolidasi tersebut.
“Sepanjang yang kami ketahui, WIKA sendiri juga menunggu arahan dari Danantara. Begitu ada petunjuk teknis dari Danantara ke WIKA, mungkin akan langsung diturunkan ke WIKA Beton,” katanya.
Ia menambahkan status WIKA Beton sebagai perusahaan terbuka membuat setiap kebijakan korporasi harus mengikuti berbagai ketentuan pasar modal. Karena itu, proses yang melibatkan aksi korporasi besar tidak dapat dilakukan secepat perusahaan tertutup.
Terkait spekulasi delisting yang sempat beredar di pasar, Harry menampik tidak ada pembahasan mengenai hal tersebut di internal perusahaan. Manajemen tetap berpegang pada prinsip going concern dan melanjutkan operasional bisnis secara normal.
Related News
Lo Kheng Hong Borong Lagi Saham GJTL, Kini Kuasai 7,03%
Bidik Pemulihan Kinerja, Ini Target Pelayaran Tamarin Samudra (TAMU)
Menggembirakan, Woori Finance Indonesia (BPFI) Raih Pendapatan Rp303M
Habco Trans Maritima (HATM) Catat Pendapatan Rp519,96M, Ada Penurunan
IPCC Catat Laba Q2-2026 Rp103,28M, Tetap Debt Free dengan Aset Rp2,04T
Integrated Auto Solutions Topang Kinerja IPCC, Q12026 Raup Laba Rp103M





