EmitenNews.com -Dalam beberapa hari lagi, umat Muslim akan menyambut bulan suci Ramadhan. Seperti diketahui, bulan Ramadhan sering kali membawa sentimen positif bagi pasar saham di Indonesia. Sejumlah saham dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kerap mengalami kenaikan selama bulan suci ini. Tercatat selama 12 tahun terakhir (2010-2021), IHSG hanya melemah 4 kali selama bulan Ramadhan dengan nilai return mencapai 2,15%. Berdasarkan data Bloomberg, dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, IHSG rata-rata mencatatkan kenaikan sebesar 1,19% pada bulan Maret dan meningkat lebih lanjut sebesar 2,30% pada bulan April. Pola kenaikan ini semakin memperkuat keyakinan bahwa periode Ramadhan tahun ini dapat menjadi momentum yang menguntungkan di pasar saham.

Adapun faktor pendukung kenaikan saham di bulan Ramadhan ditenggarai oleh terjadinya peningkatan konsumsi masyarakat. Selama bulan Ramadhan, banyak orang membelanjakan uangnya untuk membeli makanan, minuman di luar kebutuhan hariannya, baik untuk keperluan sahur maupun untuk berbuka puasa. Kenaikan konsumsi masyarakat ini salah satunya ditopang oleh adanya pembagian dana Tunjangan Hari Raya (THR) yang diterima oleh karyawan yang besarannya sekitar 1 bulan gaji. Tentunya dengan tambahan pendapatan ini, selain dibelanjakan ke makanan dan minuman, umumnya dimanfaatkan masyarakat untuk berbelanja pakaian baru, membeli atau mengganti perabotan rumah tangga, bahkan sampai melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman.

Berdasarkan data historis, beberapa sektor dan emiten dalam IHSG kerap mengalami kenaikan selama bulan Ramadhan. Berikut adalah beberapa sektor yang cenderung menguat:

  • Sektor Konsumer dan Ritel

Sektor ini menjadi pendorong utama dalam kenaikan IHSG selama Ramadhan karena meningkatnya konsumsi masyarakat. Di Indonesia, momen bulan suci Ramadhan dan lebaran biasanya menjadi titik puncak dari konsumsi masyarakat. 

Seperti disebutkan di atas, beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya peningkatan harga  disektor konsumer ini antara lain dikarenakan kebutuhan akan bahan makanan dan minuman mengalami peningkatan  sehubungan dengan adanya tradisi sahur, berbuka puasa, dan perayaan Idul Fitri. Maka tidak mengherankan kalau kinerja sektor ini kinclong saat Ramadan tiba dan mengalami lonjakan pendapatan di kuartal III tahun 2024. Misalnya saja penjualan MYOR yang mengalami lonjakan penjualan dengan kenaikan 26,2%, ICBP sukses mengalami kenaikan sebesar 8,7%, dan MAPI dengan kenaikan sebesar 4,5%.

Di bulan Ramadhan juga umumnya dimanfaatkan banyak perusahaan ritel untuk menawarkan berbagai promo dan diskon yang tentu saja menarik minat konsumen dalam membelanjakan uangnya. Menjelang Idul Fitri, masyarakat umumnya akan membeli pakaian baru sebagai bagian dari tradisi perayaan kemenangan. Selain itu, adanya tren memberikan hampers atau parsel kepada kerabat dan rekan bisnis juga ikut mendongkrak penjualan barang konsumsi.

Sebagai gambaran, menjelang lebaran kinerja emiten ritel kuartal I pada tahun 2024 mengalami lonjakan signifikan. Contohnya saja pada PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS)  yang sukses bertumbuh sebanyak 254% secara tahunan atau year on year (yoy), lalu ada PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang berhasil naik 222% (yoy), dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) yang juga berhasil meningkat sejumlah 14,8% (yoy).

  • Sektor Transportasi dan Logistik

Mobilitas masyarakat yang meningkat selama Ramadhan turut mendorong sektor transfortasi dan logistik. Beberapa faktor pendorongnya meliputi mudik lebaran, yang merupakan tradisi pulang kampung akan meningkatkan permintaan tiket pesawat, kereta, bus, dan mode transportasi lainnya. 

Pengiriman barang juga mengalami peningkatan selama bulan puasa, terutama untuk pembelian pakaian, makanan, dan hadiah, yang tentu saja membuat perusahaan logistik harus berkerja keras untuk memenuhi lonjakan pesanan dan pengiriman barang selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri.

  • Sektor Perbankan dan Keuangan

Aktivitas keuangan masyarakat mengalami peningkatan selama Ramadhan, yang berkontribusi pada pertumbuhan sektor perbankan dan keuangan. Hal ini disebabkan oleh peningkatan transaksi digital, baik melalui mobile banking maupun e-wallet dikarenakan banyaknya transaksi secara online dan offline. Di bulan Ramadhan juga terjadi peningkatan permintaan kredit. Dimana beberapa masyarakat mengambil kredit konsumtif untuk persiapan Ramadhan dan Idul Fitri.